//
you're reading...
Akuntansi, Ekonomi Islam

Review: Towards an Objective Measure of Gharar in Exchange (Sami al-Suwailem)

Tulisan ini merupakan review atas “Towards an Objective Measure of Gharar in Exchange” yang ditulis oleh Sami al-Suwailem dalam Islamic Economic Studies. Vol. 7, Nos. 1, Oct. ’99, Apr. 2000.

Review ini dimuat dalam SEBI Islamic Economics & Finance Journal, Vol. 2, Juli 2009

1.      Pendahuluan

Tulisan dan artikel yang membahas tentang topik “gharar” dan sejumlah topik lain yang masih berkaitan dalam ruang keuangan islam (islamic finance) terhitung cukup langka. Sami’ al-Suwailem adalah sedikit dari penulis yang membahas secara lebih detail tentang “gharar” selain Dr. Siddiq Muhamamd al-Amin adh-Dharir yang banyak dijadikan rujukan dalam pembahasan “gharar” dalam konteks keuangan islam modern. Diantara tulisan adh-Dharir yang sering dijadikan rujukan adalah al-Gharar wa Atsaruhu fii al-Uqud fii al-Fiqh al-Islami dan al-Gharar fil ‘Uqud wa Atsaruhu fi at Tathbiqat al-Mu’ashirah. Tulisan “Towards an Objective Measure of Gharar in Exchange” yang ditulis oleh Sami al-Suwailem ini adalah wacana yang melengkapi dari tulisan-tulisan sebelumnya, dimana tulisan ini lebih menyoroti eksistensi “gharar” dan metode identifikasi dan pengukurannya dalam transaksi pertukaran dengan basis fiqh klasik (al-Suwailem, 2000, h. 61).

Tulisan ini terdiri dari 8 (delapan) bagian yang dimulai dari pendahuluan yang menjelaskan tujuan penulisan makalah atau paper. Bagian 2 menjelaskan tentang konsep dasar dan defenisi dari berbagai istilah yang berkaitan dengan “gharar” seperti game, zero sum-game, dan sebagainya. Bagian 3, penulis mencoba melakukan komparasi antara konsep gharar dan zero sum-game yang dikenal dalam keuangan konvensional. Bagian 4 menampilkan metode pengukuran eksistensi gharar berdasarkan panduan syariah. Bagian 5 memberikan identifikasi terhadap beberapa transaksi yang ”dicurigai” mengandung gharar. Bagian 6 memaparkan tentang aplikasi konsep zero sum-game dalam transaksi keuangan modern. Bagian 7 tentang signifikansi dari konsep zero sum-game dan bagian akhir ditutup dengan kesimpulan dan tanggapan.

2.      Konsep dan Defenisi

Terdapat 4 (empat) konsep dasar yang berkaitan erat dengan pembahasan gharar yaitu konsep game, zero sum-game, normal exchange (konsep pertukaran normal) dan konsep resiko.

Game yang dimaksud adalah sebuah pertukaran yang melibatkan dua pihak untuk tujuan tertentu yang dalam terminologi fiqh lebih dikenal dengan mu’awadhah bi qashd al-ribh. Zero sum-game seperti susunan katanya, ”permainan dengan hasil bersih nol” adalah konsep permainan yang hanya menghasilkan output win-lose (menang-kalah).  Kemenangan yang diperoleh satu pihak adalah secara terbalik kerugian bagi pihak lain. Hasil yang diperoleh satu pihak tidak akan naik tanpa mengurangi hasil pihak lain. Dalam ungkapan Friedman (1990, h. 20-21) bahwa zero sum-game adalah permainan dengan hasil pareto optimal. Tidak ada hasil yang mengakomodasi kedua belah pihak, tidak ada kerjasama.

Konsep ketiga adalah normal exchange. Yaitu pertukaran barang dan jasa yang memberikan keuntungan dan kepuasan (beneficial) bagi kedua pihak. Dalam teori ekonomi mikro lebih dikenal dengan utility and profit maximizers. Pertukaran yang memungkinkan terjadinya unsur kerjasama. Terakhir adalah konsep resiko (risk). Secara umum, resiko lebih dekat dengan kata kesulitan (hardship atau masyaqqah) yang berarti sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Terdapat istilah lain yang juga mirip dengan resiko yaitu ketidakpastian (uncertainty), tetapi para ahli ekonomi membedakan kedua istilah ini. Diantaranya Knight (1921) berpendapat bahwa resiko (risk) adalah suatu situasi yang masih memiliki kemungkinan untuk diukur secara objektif sedangkan ketidakpastian (uncertainty) adalah suatu yang tidak mungkin diukur (infeasible).

3.      Gharar dan Zero sum-game

Ibn Qudamah (1989, vol. 13, h. 408) dan al-Dharir (1990, h. 622) menyebutkan bahwa gambling adalah karakteristik utama dari gharar. Oleh karena itu, transaksi gharar sama dengan konsep zero sum-game dengan hasil yang tidak pasti. Dalam literatur fiqh klasik, contoh yang sering dikemukakan untuk transaksi gharar adalah jual beli unta yang lepas, budak yang kabur. Contoh transaksi ini cukup merepsentasikan karakteristik dari gharar yaitu ketidakpatian hasil (majhulul aqibah), gambling, judi (maisir), memakan harta secara batil (aklul mal bil bathil/eating wealth of others for nothing) (Ibn Taimiyah, 1979, h. 116) dan zero sum-game. Ibn al-Qayyim (1992, v. 5, h. 815&824) menyebutkan gharar adalah kemungkinan terjadi dan tidak terjadi yang menimbulkan penyesalan (regret) bagi salah satu pihak.

Islam tidak mengharamkan dan menafikan adanya resiko meskipun merupakan sesuatu yang tidak diinginkan (undesirable). Seperti yang ditulis ibnu Taimyah (1987, 567), alasan pengharaman gharar bukanlah karena adanya resiko dalam transaksi tetapi  lebih kepada bahwa gharar adalah memakan harta orang lain dengan cara batil (eating wealth of others for nothing). Hal yang sama juga terjadi pada zero sum-game. Dalam al-Quran (al-Maidah: 91), Allah mengharamkan judi dan mengundi nasib karena setan akan menjerumuskan manusia dalam permusuhan dan kebencian. Gharar adalah transaksi yang sarat dengan konflik kepentingan (conflict of interest) yang juga akan berakhir dengan penyesalan yang memicu permusuhan dan kebencian diantara kedua pihak (Ibn Taimiyah, 1979, h. 166)

Konsep dasar dalam mengindetifikasi eksistensi gharar dalam suatu transaksi adalah hasil zero sum-game, yaitu hasil yang diperoleh satu pihak berbanding terbalik dengan kerugian pihak lain. Misalnya, dalam jual beli unta yang lepas. Nilai dari unta adalah 1.000, dan keyakinan penjual akan ditemukannya unta adalah 20 %, maka ia menjual dengan harga 200. Simulasi hasil adalah

Penjual                        Pembeli

Ditemukan                                   -800                              800

Tidak ditemukan                           200                           -200

Dari simulasi tersebut terlihat bahwa hasil net dari kedua opsi hasil penjualan unta adalah nol. Artinya hasil tersebut mencerminkan bahwa berbanding terbalik dengan hasil pihak lain.

Pengukuran lain dari gharar didasarkan pada teori regret (penyesalan) yang dikembangkan oleh Loomes dan Sugden (1982) dan Loomes (1988). Teori menjelaskan bahwa regret adalah perbedaan (selisih) diantara hasil saat keputusan ”menjual” dan keputusan untuk ”tidak menjual”. Pemenang adalah pihak yang memperoleh selisih positif. Secara simbolik dapat dituangkan dalam,

selisih hasil yang diperoleh A antara menjual dan tidak menjual kepada B

hasil yang didapat jika A memutuskan untuk menjual kepada B

hasil yang didapat jika A memutuskan untuk tidak menjual kepada B

Persamaan diatas menjelaskan bahwa jika selisih tersebut adalah positif atau lebih besar dari nol, maka dialah yang memperoleh kemenangan. Persamaan ini berlaku untuk kedua belah pihak. Ini adalah gambaran dari hasil zero sum-game.

Sedangkan dalam transaksi nonzero sum-game, pengukuran tingkat gharar dilakukan dengan pendekatan net value of cooperation. Pendekatan ini didasari oleh karakteristik hasil dari transaksi nonzero sum-game berupa win-win, win-lose dan lose-lose. Ketiga karakteristik ini terjadi dalam suatu transaksi karena dimungkinkannya terdapat salah satu dari 3 kondisi resiko yaitu resiko ringan, resiko yang tidak mungkin dihindarkan dan resiko yang terjadi tanpa sengaja.

Net value of cooperation adalah selisih nilai kerjasama satu pihak (penjual) antara keputusan menjual yang memberikan hasil win-win dengan keputusan menjual yang memberikan hasil win-lose atau selisih antara hasil yang diharapkan antara nilai kerjasama atau kompetisi.

Persamaan diatas menjelaskan bahwa penjual melakukan transaksi dengn hasil win-win atau lebih menonjolkan nilai-nilai kooperatif saat selisihnya lebih besar dari nol (), sebaliknya jika selisih tersebut kecil sama dari nol (), maka transaksi tersebut lebih cenderung bersifat zero sum-game.

4.      Pengukuran Gharar via Aspek Syariah

Kaedah umum dan dasar untuk mendeteksi eksistensi gharar dalam suatu transaksi adalah al-kharaj bidh-dhaman (liabilities justifies utility or return). Jika kepuasan atau keuntungan yang didapat tidak diiringi dengan countervalue suatu kewajiban tertentu, maka transaksi tersebut nyata mengandung unsur gharar.

Kaedah dasar ini memberikan implikasi bahwa suatu transaksi tergolong normal atau tidak mengandung gharar jika memenuhi dua syarat sebagai berikut:

  1. Pertukaran kepuasan bagi kedua pihak bersifat pasti
  2. Kedua pihak sama memiliki hak untuk mendapatkan kepuasan masing-masing dan sebaliknya juga menanggung kewajiban masing-masing.

Jika suatu transaksi, pertukarannya tidak pasti saat akad dan kewajiban hanya ditanggung oleh satu pihak maka ini dikategorikan sebagai transaksi gharar dengan motif hedging, sedangkan jika hak dan kewajiban masing-masing pihak tidak seimbang maka ini termasuk gharar dengan motif asuransi.

Bodie dan Merton (1998) menulis bahwa hedging adalah cara untuk mengurangi resiko kerugian dengan mengambil suatu kemungkinan untung, sedang asuransi adalah pembayaran premi untuk menghindari kerugian dengan menerima potensi keuntungan.

5.      Transaksi yang ”Dicurigai” Mengandung Gharar

5.1.      Ju’alah

Yaitu suatu kontrak dimana pemilik (principle) menyewa seseorang (agent) untuk melakukan suatu pekerjaan. Mazhab Hanafi menilai bahwa transaksi adalah gharar (al-Jamili, 1986) karena sudut pandang yang digunakan adalah saat transakasi tersebut gagal dilakukan. Sedangkan ulama yang lain membolehkan akad ini karena transaksi memungkinkan hasil win-win dan tujuannya lebih bersifat kooperatif.

5.2.      Bai’ Urbun

Yaitu transaksi jual beli dengan wujudnya uang muka (down payment). Jika transaksi dilanjutkan, maka uang muka adalah bagian dari harga, sedangkan jika transaksi batal, maka uang muka hilang dan menjadi milik penjual. Hanya Imam Hanbali yang membolehkan transaksi ini (Suwailem, 1996). Ketiga imam selain Hanbali melihat bahwa jika transaksi ini batal, maka pembeli membayar sesuatu tapi tidak mendapatkan apa-apa dan sebaliknya bagi penjual. Jadi ini adalah termasuk memakan harta orang lain dengan cara batil (eating wealth of others for nothing).

5.3.      Jual Beli Buah Yang Belum Matang

Hadis Rasulullah yang cukup masyhur mengatakan bahwa jual beli hanya dilarang saat buah yang diperjualbelikan belum jelas matangnya, sehingga kondisi ini termasuk majhul aqibah bagi kedua pihak. Maka, dengan kemajuan teknologi, keharaman ini menjadi relatif tergantung lingkungan dan teknologi yang digunakan.

5.4.      Jual Beli Buah dalam Tanah

Perlakuan jual beli ini juga sama dengan kondisi jual beli sebelumnya. Informasi dari ahli pertanian bisa diandalkan untuk mengidentifikasi gharar atau tidak (Ibn Taimiyah, 124-125; Ibn al-Qayyim, v. 4, h. 2-3). Imam Syafii dan Hanbali melarang transaksi ini.

5.5.      Gambling

Gambling adalah bentuk utuh dari gharar itu sendiri. Para ulama membedakan antara gambling dengan contest, dimana kontes membutuhkan skil khusus dan harus ada pihak lain yang netral yang ikut memberikan hadiah (al-Mishry, h. 108). Layaknya kasus lotre dengan pasar modal, lotre termasuk zero sum-game, sedangkan pasar modal tergantung pada kondisi tertentu, misalnya saat kondisi perekonomian sedang stabil, maka dalam pasar modal, pembelian saham bisa memberikan hasil win-win.

5.6.      Asuransi

Yaitu pertukaran kewajiban dengan premi untuk menanggung resiko dari suatu aset, jika aset tersebut rusak, maka pemilik berhak atas kompensasi aset tersebut, sebaliknya jika sampai masa tertentu, aset masih utuh, maka pihak yang menanggung berhak atas premi yang dibayarkan. Berdasarkan kondisi tersebut, maka asuransi termasuk zero sum-game sebagaimana terlihat dalam simulasi berikut:

Tertanggung                Penjamin

Aset rusak                                         950                                      -950

Aset utuh                                          -50                                         50

Menurut Imam Malik sebagaimana dikutip Ash-hab, mengatakan bahwa tidak dibolehkan seseorang kepada pihak lain: jaminlah untukku aset ini sampai masa tertentu dan aku akan membayar sejumlah tertentu kepadamu (al-Ashbahi, v. 4, h. 28)

5.7.      Forward Contract

Yaitu kesepakatan kedua pihak untuk mengadakan pertukaran dengan penentuan harga diawal dan penyerahan barang dimasa datang. Ini adalah salah satu bentuk hedging, misal seorang penjual setuju untuk menjual 1 Lira dengan 2 dolar pada masa datang. Jika pada saat pertukaran nilai tukar menjadi 2.2 dolar, maka penjual rugi sebesar 0.2 dolar, sebaliknya pembeli mendapat untung sebesar selisih nilai tersebut. Dan jika saat pertukaran nilai tukar turun menjadi 1.7 dolar, maka penjuallah yang mendapat untung sebesar 0.3 dolar. Ini adalah representasi dari zero sum-game.

Dalam Islam juga dikenal forward contract seperti akad salam dan jual beli tangguh. Tetapi kedua akad ini berbeda dengan forward contract konvensional, dimana yang terakhir tidak ada pertukaran ril, ia hanya bersifat hedging, sementara salam dan jual beli tangguh merupakan pertukaran ril, dimana dalam jual beli tangguh, pembeli mendapat manfaat dari barang yang diterima di awal dengan menggunakannya dan memungkin memperoleh income untuk pembayaran utang kepada pembeli dan dalam salam, penjual bisa memanfaat uang yang diterima diawal secara penuh dan dimungkin memperoleh keuntungan.

5.8.      Riba; Utang Berbasis Bunga

Riba adalah pertukaran keuntungan yang pasti dengan kuantitas yang tidak diketahui (potensi keuntungan). Ini adalah bentuk dari gharar seutuhnya, sehingga riba dan gharar ibarat dua sisi mata uang.

6.      Aplikasi Zero Sum-Game dalam Keuangan Modern

6.1.      Option

Yaitu hak untuk membeli (call option) atau menjual (put option) suatu aset dengan harga yang telah ditentukan diawal pada jangka waktu tertentu dengan pembayaran sejumlah fee (Ingersoll, 1994).

Call option sangat mirip dengan bai urbun, namun menurut Dixit dan Pndyck (1994) bai urbun merupakan real option, dimana keputusan untuk mengeksekusi option tergantung pada variabel ril yang mempengaruhi hasil yang diperoleh pembeli bukan pada harga aset, sehingga option ini memungkinkan mutual gain, kedua pihak memperoleh keuntungan, sementara call option bersifat zero sum game.

6.2.      Revenue Sharing

Revenue sharing biasa dilakukan dalam akad musyarakah dalam bidang pertanian atau yang lebih dikenal dengan muzara’ah. Dalam prakteknya, petani penggarap mengeluarkan sejumlah biaya sampai tanaman bisa dipanen, tetapi biaya ini tidak dikurangi dalam pembagian hasil antara petani penggarap dengan pemilik lahan (Ibn Qudamah, v. 7, h. 149-150, 536, 539). Transaksi ini memungkinkan terjadinya hasil win-lose saat hasil yang didapat petani penggarap lebih besar dari biaya yang telah ia keluarkan.

7.      Signifikansi Konsep Zero sum-game

7.1.      Prinsip Pareto Optimum

Sejatinya, konsep zero sum-game tidak sesuai dengan konsep pareto optimum karena dalam zero sum game, tidak akan pernah ada hasil yan baik untuk kedua pihak. Pareto optimum menghendaki ”better off” yang dinikmati seseorang tidak boleh menimbulkan ”worse off” bagi orang lain.

7.2.      Kehidupan bukanlah Zero sum-game

Banyak hal dalam kehidupan ini yang menimbulkan konflik antar individu tetapi bisa memiliki hasil yang saling menguntungkan (win-win). Karena hal ini sesuai dengan fitrah kehidupan itu sendiri. Misal, Bierman dan Fernandez (1998, h. 18-19) dan Shelling (ch. 3) mengatakan bahwa dalam banyak keadaan, manusia selalu lebih memilih nilai kerjasama dan koordinasi dalam melalui konflik. Oleh karena itu, larangan gharar tidaklah kontraproduktif dengan ekonomi kehidupan,sebaliknya memberikan insentif untuk memindahkan fokus ekonomi dari nilai-nilai persaingan dan kompetisi ke nilai-nilai kerjasama.

7.3.      Segelintir Orang ”Menguasai” Banyak Orang

Jika zero sum-game ini melibatkan banyak orang, maka ini layak permainan dengan lotre, banyak orang memperebutkan sedikit hadiah, sehingga akhirnya pemenang yang berjumlah sedikit akan ”menguasai” orang banyak. Saat ini (Frank dan Cook (1995), dunia masyarakat Barat sedang mempertontonkan perekonomian layaknya event olahraga yang sarat zero sum-game. Kesempatan tidak didistribusikan secara rata, saat hanya sedikit orang yang bisa menang dan menikmati ”porsi singa” dari kue ekonomi, sementara yang lain hanya bisa menikmati ”secuil” padahal mereka banyak.

7.4.      Hasil Absolut Vs Relatif

Dalam ”ranah” zero sum environment, hasil bersifat relatif bagi semua individu. Paradigma ini membentuk lingkungan yang hanya mengakomodir satu pemenang dan yang lain kalah. Pada tahap yang lebih jauh, ini akan membentuk ”balon kecemburuan” antar individu dan pada saatnya, balon tersebut akan pecah yang menjadikan setiap individu menghalalkan segala cara agar keberuntungan berpihak pada dirinya. Jadi, zero sum-environment memicu terbentuk tingkah laku yang tidak etis dan tercela.

7.5.      Ketimpangan Informasi dan Konflik Kepentingan

Fakta kehidupan mengakomodir wujudnya informasi yang tidak merata (timpang), namun ketimpangan ini bisa disiasati dengan desain kontrak yang dibuat. Tetapi, dalam zero sum game, ketimpangan informasi adalah sesuatu yang dipelihara, agar keuntungan (better off) menjadi milik pihak yang menguasai informasi karena konflik kepentingan yang tercipta.

7.6.      Kejujuran dan Rasionalitas

Maksimalisasi profit bagi seorang yang rasional tidaklah salah. Dalam non zero sum-game, kedua pihak juga sama-sama memaksimalkan profit dan kepuasan, tetapi zero sum-game, maksimaliasasi tersebut hanya bisa dicapai oleh satu pihak. Inilah yang melanggar prinsip rasionalitas karena mengganggu maksimalisasi pihak lain. Dalam aspek kejujuran pun, zero sum-game pun tidak mengakomodirnya, karena jika nilai kejujuran diterapkan berarti memberikan peluang kepada pihak lain yang jelas memiliki konflik kepentingan. Jadi rasionalitas dan kejujuran tidak akan pernah wujud dalam sebuah zero sum-game. Salah satu contoh yang mewakili adalah kontrak asuransi. Pauly (1968) menulis bagaimana moral hazard dari (kedua pihak) dalam kontrak asuransi, sehingga optimalisasi tujuan asuransi tidak pernah tercapai.

8.      Kesimpulan dan Tanggapan

Alasan mendasar yang melatar belakangi pengharaman gharar dalam transaksi adalah karena gharar menjadikan orang memakan harta orang lain dengan cara yang batil atau tidak wajar (eating wealth of others for nothing). Atau dalam bahasa Rasulullah, pelarangan gharar karena tidak adanya counter value berupa kewajiban yang diberikan untuk menikmati keuntungan (al-kharaj bidh-dhaman/liabilities justify return or utility).

Kaedah atau maxim inilah yang dijadikan panduan untuk mengukur eksistensi gharar dalam suatu transaksi. Panduan ini selanjutnya dikembangkan dalam suatu metode pengukuran yang bersifat kuantitatif. Metode pengukuran ini bisa dikembangkan untuk memberikan pertimbangan bentuk-bentuk instrumen keuangan modern.

Pengharaman gharar bukan hanya paradigma umum Islam terhadap pertukaran (exchange) tetapi juga sesuai dan konsisten dengan prinsip rasionalitas yang dikembangkan ekonomi neo-klasik.

***

Dr. Suwailem dalam artikel ini telah banyak membuka wacana tentang pengukuran eksistensi gharar dalam suatu transaksi. Anas Zarqa (2000) mengometari bahwa beliau mengawali wacani ini dengan berusaha menjembatani  antara fiqh gharar dengan konsep ekonomi ”game” dan ”uncertainty”. Dalam komentarnya, Anas Zarqa menyoroti pandangan Dr. Suwailem tentang pengukuran gharar dalam transaksi non-zero sum game. Suwailem berpandangan bahwa Islam tidak melarang suatu pertukaran (exchange) meskipun hasilnya adalah win-lose, dengan syarat pihak yang melakukan pertukaran ”sejatinya” mengharapkan hasil yang sama-sama menguntungkan (win-win outcome) seperti dalam transaksi muzaraah (sharecropping), jual beli hasil tanaman yang masih dalam tanah, jual beli buah yang belum jelas matangnya, option dan forwards.

Bahkan ”taruhan” pun memiliki kemungkinan untuk dibolehkan.  Misal, dua orang yang taruhan terhadap siapa yang paling tinggi kecepatan larinya. Larangan taruhan hanya dalam kondisi saat kedua pihak memberikan sesuatu untuk dijadikan taruhan dan yang menang akan mengambil semuanya. Ini adalah taruhan dengan konsep zero sum-game. Tetapi jika hanya satu orang yang memberikan barang/uang untuk taruhan. Maka hal itu dibolehkan karena hasilnya bukan win-lose outcome tetapi win-no win atau lose-no win.

Satu hal dalam artikel Dr. Suwailem yang mungkin perlu tanggapan yang berbeda, yaitu pandangan beliau tentang kemiripan riba dalam utang dengan praktek asuransi. Dr. Suwailem berpandangan bahwa keduanya termasuk zero sum-game. Beliau mengutip pandangan Imam Malik sebagaimana dikutip Ash-hab yang mengatakan bahwa tidak dibolehkan seseorang kepada pihak lain: jaminlah untukku aset ini sampai masa tertentu dan aku akan membayar sejumlah tertentu kepadamu (al-Ashbahi, v. 4, h. 28).

Menurut Anas Zarqa (2000) bahwa benar dalam praktek riba utang dan asuransi, salah satu pihak ingin terjauh dari resiko ketidakpastian (uncertainty). Tetapi, kedua memiliki perbedaan. Pertama, dalam utang piutang, pemilik uang bertujuan inginmendapatkan keuntungan dan menambah kekayaannya, sedangkan dalam asuransi, pihak tertanggung memberikan kekayaan (premi) bukan menambah kekayaan; kedua, asuransi relatif mengukur resiko berdasarkan perhitungan (Frank Knight), sedangkan riba utang, mencari perlindungan dari ketidakpastian itu sendiri.

Selanjutnya, Dr. Suwailem memotret asuransi dalam konteks hubungan bilateral antara dua pihak. Sementara saat ini, praktek asuransi bukan dalam konteks bilateral tetapi lebih bersifat kolektif, melibatkan banyak orang (a large number of individuals subject to similar risk). Perusahaan asuransi hanya bertindak sebagai intermediari diantara para pemegang polis sebagaimana layaknya sebuah bank. Bukankah perbedaan ini membutuhkan konsekuensi hukum yang berbeda pula?

Dalam literatur asuransi syariah, kita memahami bahwa konsep asuransi syariah yang dikembangkan adalah dengan basis sharing of risk bukan transfer of risk. Resiko akan dibagi dan ditanggung bersama diantara sesama pemegang polis dan dana untuk men-cover resiko pun berasal dari dana yang sudah dihibahkan oleh setiap pemegang polis pada awal akad atau yang dikenal dengan dana tabarru’.[1]

9.      Daftar Bacaan

al-Suwailem, Sami. (2000). “Towards an Objective Measure of Gharar in Exchange”, Islamic Economic Studies. Vol. 7, Nos. 1.

Billah, Mohd. Ma’sum. (tth). “Takaful (Islamic Insurance) Premium: A Suggested Reagulatory Framework,” International Journal of Islamic Financial Services, Vol. 3, No.1

Shahatah, Hussein, Siddiq Muhammad al-Amin adh-Dharir. (2005), Transaksi dan Etika Bisnis dalam Islam, Jakarta: Visi Insani Publishing, cet. 1.


[1]Mohd. Ma’sum Billah, “Takaful (Islamic Insurance) Premium: A Suggested Reagulatory Framework,” International Journal of Islamic Financial Services, Vol. 3, No.1, hlm. 3; Lihat  Al-Hilli, Najm al-Din Abu Jafar, Shara’i al-Islam, Beirut, Vol. II hlm. 253; Khan, Muhammad Akram, Glossory of Islamic Economics, Lihat  al-Tabarru, hlm. 729.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadis hari ini

Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya"
February 2013
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  

Follow me !

%d bloggers like this: