//
you're reading...
Ekonomi Islam, Hadits

Analisis Perbandingan Kontrak Berjangka dengan Akad Salam (Konsep dan Mekanisme Transaksi)

Tulisan ini disampaikan di Seminar Nasional dan dimuat di Proceeding Seminar Nasional dan Call for Papers, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, September, 19th 2012

Abstract

This study is aimed to explain concept and mechanism of future commodity, and salam contract comprehensively and confirmed that future and salam are similar relatively and claimed future commodity as a product is valid by shariah principles. A descriptive method used to compare concept and mechanism of future contract to salam contract. Comparative analysis done to transaction related parties, object, price and trading mechanism.This study suggested that future contract and salam confirmed, showed any differences in transaction object related to commodity possession, substance of riba, actual delivery; price related to advance payment, initial margin, and transaction motives. Nowadays, futures mechanism and its basic concept are different significantly. Underlying transaction volume is less than its actual transaction. Majority of transaction is not ended  by delivery, but by offsetting position prior of the date or cash settlement at the date. Pricing is not created by demand and supply, but created by main made. Meanwhile, initial margin claimed as down-payment or good faith or collateral, but it is claimed as gambling stakes because it is not delivered to seller that decreases selling cost. The transaction motives generalized by speculation and arbitrage to make profit from price moving. The transaction done among the speculators.

Keywords: future commodity, salam, underlying asset, offsetting, cash settlement, speculation

1.    Pendahuluan

Beralihnya kehidupan manusia dari tradisional ke modern mencipta dinamika kehidupan yang semakin komplek dan shopisticated. Bidang ekonomi adalah sektor kehidupan yang relatif besar mengakomodasi peralihan tersebut. Tuntutan fasilitas dan sarana dalam transaksi ekonomi untuk mencipta kehidupan yang semakin mudah dan efektif dalam waktu.

Ilmu pengetahuan dan inovasi dipaksa untuk terus mengikuti desakan tersebut. Dalam bidang ekonomi terutama keuangan, bermunculan beragam produk dan instrumen yang mengakomodir klaim ”kebutuhan” manusia baik dalam industri perbankan, asuransi, pasar modal, dan bursa berjangka. Semua itu dilakukan dan terus diusahakan demi terciptanya kemudahan fasilitas kehidupan. Dengan analisis sederhana dapat dikatakan bahwa perubahan dinamika kehidupan (lingkungan) akan menstimulus atau memacu adanya sebuah inovasi yang lebih mengakomodir kebutuhan atau lebih menguntungkan[1].

Produk keuangan lama akan ditinggalkan jika telah muncul produk baru yang lebih memberikan benefit atau value added. Jika suatu produk keuangan baru terbentuk tapi tidak memberikan value added dari produk yang sebelumnya, maka pasar tidak akan menyerapnya[2]. Akibatnya, transaksi yang dulunya dirasa sederhana dan begitu mudah dipahami, sekarang telah menjelma menjadi produk yang sangat terspesialisasi dan kompleks. Bahkan tidak jarang, kombinasi (hybrid) antar produk adalah diantara pilihan untuk mencipta produk dimaksud.

Inovasi yang dilakukan terhadap produk keuangan tersebut untuk memberikan profil keuntungan (return) dan resiko yang optimal, disamping untuk mempermudah kehidupan ekonomi. Secara netral, kemajuan dan inovasi tersebut sangat didukung dan patut mendapat apreasiasi. Karena hal itu bertujuan untuk mencipta kehidupan yang lebih baik. Tetapi, terkadang semangat berinovasi tersebut semakin mencipta kehidupan yang individualis dan sifat tamak (greedy). Inovasi produk yang awalnya dibuat, dirancang dan dilempar ke pasar untuk meningkatkan mutu kehidupan, tetapi berakhir dengan sangat tragis dan menyeret kehidupan ke kondisi yang buruk. Struktur produk yang dirancang hanya mengakomodasi usaha memperoleh keuntungan berlipat ganda semata, tanpa diikuti oleh usaha ril dan pengorbanan yang seimbang dengan potensi keuntungan yang akan diraih. Produk yang dicipta begitu rapuh dan menyimpan resiko yang amat tinggi.

Dalam dunia keuangan mainstream (konvensional) saat ini, produk keuangan begitu mendominasi. Transaksi yang terjadi dalam sehari bisa melebihi berkali lipat transaksi perdagangan di sektor ril yang bisa dihasilkan suatu negara bahkan dunia dalam kurun waktu setahun. Menurut data sebuah NGO di Amerika Serikat, volume transaksi yang terjadi di pasar uang (currency speculation and derivative market) dunia berjumlah US$ 1,5 triliun hanya dalam rentang waktu sehari, sedangkan volume transaksi yang terjadi di perdagangan  dunia di sektor ril hanya mencapai US$ 6 triliun dalam setahun[3].

Krisis global terbaru yang berawal dari Amerika Serikat dan menjalar hampir ke seluruh dunia adalah bukti lain bahwa semangat inovasi produk hanya mengedepankan kepentingan sesaat, jangka pendek, kepentingan individual, dan tidak mempertimbangkan dampak yang akan menerpa.

Diantara inovasi produk yang telah mencipta semua itu dan dianggap sangat terspesialisasi, komplek dan beresiko tinggi tersebut adalah produk derivatif (derivative product or instrument). Sederhananya, inovasi produk ini adalah produk turunan dari produk utamanya seperti saham, obligasi, mata uang, komoditas, dan sebagainya. Tujuan dari inovasi produk ini adalah untuk meminimalkan resiko yang potensi timbul dari perdagangan produk utama akibat fluktuasi harga di pasaran.

Di sisi lain, ditengah gonjang ganjingnya ekonomi konvensional, dinamika perkembangan ekonomi Islam juga mulai membuka mata pasar. Industri perbankan adalah sektor yang menjadi pionir dari perkembangan dimaksud. Bank Islam tidak lagi hanya ada di negara yang memiliki penduduk mayoritas muslim, tetapi mulai berdiri di negara-negara barat. Eskalasi perkembangan ini juga diikuti oleh sektor ekonomi lainnya seperti asuransi, pasar modal, dan bursa komoditas. Inovasi produk berbasis syariah di berbagai industri keuangan mulai diminati pasar. Sampai saat ini, inovasi yang ada berusaha menciptakan produk yang bisa bersaing dengan produk konvensional. Walaupun pendekatan yang mengemuka adalah reconstruction approach. Produk yang dihasilkan bermula dari adanya produk konvensional sebagai dasar awal dan berusaha mengeliminir banyak hal yang tidak sesuai dengan syariah.

Yang terjadi adalah semangat untuk bersyariah secara produk walau terkadang cukup sulit mencari pembenarannnya dengan semangat ekonomi Islam yang lebih berpihak ke sektor ril.

2.    Permasalahan

Diantara wacana yang mulai mengemuka setelah industri perbankan adalah isu mencipta produk di pasar modal dan pasar komoditas. Dalam pasar yang terakhir, wacana yang muncul adalah upaya untuk menciptakan produk futures (kontrak berjangka) yang sesuai dengan syariah. Wacana yang berkembang adalah bahwa Islam juga memiliki instrumen kontrak berjangka seperti salam dan istishna. Keduanya dianggap sebagai transaksi yang mengakomodir produk futures karena karakteristik penyerahan barang secara tunda (deferred delivery)[4].

Lebih dari itu, berbagai pandangan islamic scholar kontemporer di bidang ekonomi dan fiqh muamalat pun banyak mengemuka dalam banyak diskusi dan artikel ilmiah yang menjelaskan pandangan mereka tentang wacana diatas. Mereka melandaskan pendapat masing-masing dengan merujuk berbagai diskursus dalam fiqh muamalat, pertimbangan ”maslahat” dan kebutuhan pasar akan produk dimaksud.

Mereka yang membolehkan futures beralasan bahwa produk ini relatif sama dengan akad salam, bahkan merupakan variasi dari akad salam atau salam dengan pembayaran tangguh. Majd al-Din Azzam (1985) menyebut futures sebagai shibh al-salam, atau quasi-salam. Lebih lanjut, dikatakan bahwa dengan adanya prosedur dan sistem pendaftaran, kliring, peran dari clearinghouse dan para pialang profesional dalam bursa berjangka komoditas diklaim mampu mengeliminasi ketidakpastian (uncertainty) dan gharar. Abdel-Hamid al-Ghazali (1991) dan Muhktar al-Salami seperti dikutip Muhammad al-Bashir al-Amine (2001) dalam “Futures Trading Contracts in Commodity Markets: An Islamic Analysis,” juga mengklaim adanya benefit dan desakan untuk mengakomodasi kebutuhan pasar yang akan didapat dari adanya produk futures bagi operasional bisnis perusahaan dari sisi supply dan biaya. Dukungan atas kebolehan futures juga datang dari Monzer Kahf yang mengatakan bahwa future market hanya sebagai sebuah pasar bagi bisnis komoditas dan dibutuhkan alternatif produk Islam untuk menjawab dan memfasilitasi benefit ril dari pasar komoditas tersebut[5].

Ditambahkan oleh Kamali bahwa hadis yang digunakan oleh ahli ekonomi Islam yang tidak membolehkan futures yang menegaskan larangan menjual sesuatu yang belum dimiliki (maa laysa indak) memberikan indikasi bahwa jual beli yang dilarang hanya untuk barang atau objek yang spesifik bukan barang yang fungible (banyak tersedia di pasaran). Sementara futures diaplikasikan untuk produk yang fungible seperti hasil pertanian, perkebunan dan barang pertambangan. Hadis tersebut bukan berbicara tentang kepemilikan tetapi untuk mencegah terjadinya gharar akibat ketidakmampuan menyerahkan barang, sehingga adanya jaminan dari clearinghouse dapat mengeliminir gharar tersebut. Begitu juga dengan hadis yang berbicara tentang qabadh, juga tidak relevan dengan futures. Dalam futures, qabadh dan delivery bukanlah faktor yang dominan, adanya kewajiban menyerahkan dan potensi kerugian yang harus ditentukan bukan merujuk pada aspek qabadh barang tetapi pada kontrak yang ada[6].

Sementara mereka yang tidak membolehkan futures menekankan bahwa futures adalah jual beli atas barang yang tidak ada, belum dimiliki, tidak ada transfer barang secara aktual, dan eksistensi gharar yang berlebihan. Futures hanya mengakomodir pelaku untuk mendapatkan keuntungan dari fluktuasi harga barang atau komoditas. Mereka yang mengharamkan diantaranya resolusi Fiqh Academy tahun 1985 di Mekkah, Anas Zarqa, Taqi Utsmani[7], Muhammad Akram Khan[8], dan ahli ekonomi islam lainnya.

Berdasarkan dinamika dan diskursus beragam pandangan tentang futures diatas, menurut penulis semangat yang muncul dari mereka yang membolehkan dan menyamakan futures dengan salam adalah untuk mengakomodir demand dari pasar dan ”memaksakan” adanya pembenaran atas kevalidan transaksi dimaksud. Lagi, seperti dalam industri perbankan, ekstensi produk yang ada cenderung dalam koridor mencipta produk yang head to head dengan produk konvensional. Semangat dari ekonomi Islam untuk mendukung dan mengembangkan sektor ril cenderung terabaikan.

3.    Kontrak Berjangka

Pembahasan tentang kontrak berjangka, maka terdapat 2 (dua) bentuk kontrak yang relatif sama, yaitu forward contract dan future contract. Kedua bentuk kontrak sama memiliki karakteristik bahwa adanya kontrak kesepakatan antara pihak yang bertransaksi untuk melakukan komitmen jual atau beli terhadap underlying asset tertentu di masa depan dengan harga yang telah disepakati di awal.

Berdasarkan sejarah munculnya kontrak berjangka, dapat diklaim bahwa future contract berawal dari konsep yang sama dengan forward contract. Kedua kontrak ini lahir sebagai sarana hedging atau lindung nilai bagi produsen produk pertanian terhadap fluktuasi harga hingga saat panen.

Chance[9] memberikan defenisi forward dan future yang menjelaskan konsep dasarnya,

“A forward contract is an agreement between two parties in which on party, the buyer, agrees to buy from the other party, the seller, an underlying asset or other derivative, at a future date at a price established at the start of the contract. Like forward contract, a future contract is an agreement between two parties in which on party, the buyer, agrees to buy from the other party, the seller, an underlying asset or other derivative at a future date at a price agreed on today.

Hull[10] mendefenisikan future, spot dan forward contract sebagai berikut:

A futures contract is an agreement to buy or sell an asset at a certain time in the future for a certain price. By contrast in a spot contract there is an agreement to buy or sell the asset immediately (or within a very short period of time). Forward contracts are similar to futures except that they trade in the over-the-counter market. Forward contracts are popular on currencies and interest rates”

Chance lebih menjelaskan kepada konsep dasar dari kedua kontrak dimaksud. Tetapi, secara umum defenisi-defenisi yang dikemukakan masih mengakomodir karakteristik khusus dari forward dan future contract yaitu berupa kesepakatan antar pihak yang bertransaksi (penjual dan pembeli) terhadap suatu underlying asset tertentu pada tanggal dan harga yang telah ditetapkan di awal kesepakatan. Kesepakatan untuk melakukan jual beli pada saat kontrak tersebut dilakukan terhadap underlying asset berupa komoditas, harga, spesifikasi, tempat penyerahan dan waktu penyerahan komoditas di masa datang[11].

Meskipun awal munculnya pasar future di Jepang[12] dengan komoditas beras sekitar abad 18-an bahkan mungkin lebih awal[13], tetapi dalam bentuk pasar modern, future market mulai eksis pada pertengahan tahun 1800. Pada tahun 1840, Chicago menjadi pusat transportasi dan distribusi komoditas pertanian terbesar[14], tepatnya di Great Lake yang menghubungkan dengan kota-kota lain. Petani dari Midwest membawa hasil pertanian mereka seperti gandum ke Chicago. Sehingga harga gandung naik sebelum panen tetapi setelah masa panen harganya menjadi turun. Saat itu, gudang di Chicago tidak mampu menyimpan gandum yang melimpah tersebut. Malahan beberapa petani menyimpan gandum mereka di sungai Chicago karena harga begitu murah.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, tahun 1848 sejumlah pengusaha dalam payung CBOT membuat aggreement yang dinamakan toarrive contract[15]. Kontrak ini mengakomodir petani untuk menjual gandumnya sebelum ada barangnya. Maksudnya, petani yang akan melakukan panen bisa melakukan kontrak untuk menyerahkannya di kemudian hari di harga yang ditetapkan di awal. Begitu juga memungkinkan petani untuk menyimpan gandum mereka di gudang sekitar Chicago. Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal kontrak future. Kemudian kontrak ini diperdagangkan di pasar sekunder yang memungkinkan pembeli dan penjual mengakhiri kewajiban mereka dengan melepasnya di harga tertentu kepada pihak lain.

Futures contract adalah kontrak yang mempertemukan investor jual yang disebut hedger dan investor beli yang disebut speculator. Perbedaan antara hedger dengan speculator pada saat posisi short atau long dapat diringkas sebagai berikut[16]

Tabel 1. Perbedaan Hedger dan Speculator pada posisi Short & Long

Short ( posisi menjual)

Long (posisi membeli)

Hedger Mengamankan harga sekarang untuk memproteksi terhadap penurunan harga dimasa yang mendatang Mengamankan harga sekarang untuk memproteksi terhadap kenaikan harga dimasa yang mendatang
Speculator Mengamankan harga sekarang dalam rangka mengantisipasi penurunan harga Mengamankan harga sekarang dalam rangka mengantisipasi kenaikan harga

Clearing house (CH) adalah pihak atau badan yang menjadi perantara antara investor beli atau hedger dengan investor jual atau speculator.  Dalam future contract atau produk derivatif lainnya, CH berfungsi sebagai (a) pihak yang mempertemukan (matching) antara supply dan demand sebuah transaksi dari para pemain di bursa; (b) membayarkan cash diantara pihak-pihak yang bertransaksi; mewajibkan, menarik, mengumpulkan marjin clearing, dan meminta marjin tambahan jika kurang dari batas tertentu (margin call); dan memberikan garansi atau jaminan terhadap transaksi yang terjadi sebagai konsekuensi dari kewajiban clearing margin dari pihak yang bertransaksi[17].

Secara umum, terdapat 2 (dua) kondisi utama dari berakhirnya future contract dapat dilakukan dengan delivery dan cash settlement[18]. Jika kontrak berakhir dengan delivery, maka clearing house akan memilih pihak yang lebih dulu untuk menerima delivery.

Hampir semua transaksi futures contract diakhiri tanpa adanya penyerahan fisik komoditas yang dijadikan underlying assetnya. Artinya futures contract ini pada dasarnya adalah membeli sesuatu yang tidak dimiliki oleh penjual. Powers dan Vogel[19] menulis,

“In futures the trader in not buying or selling the commodity but only agreeing to buy and sell it at a later date. In one sense you could look at the purchase or sale of futures as a purchase or sale of the right to participate in price change”

Hull[20], Rubinstein[21], Fabozzi[22], Lore dan Borodovsky[23] memberikan klaim bahwa mayoritas future contract yang ada tidak berakhir dengan delivery tetapi dengan cash settlement. Hanya 2% kontrak yang berakhir dengan delivery.

Dalam melakukan trading terdapat tiga posisi yaitu long, short, dan out. Dalam banyak waktu, posisi ketiga adalah posisi yang tepat, tapi jangan terlalu fanatik dengan posisi tersebut. Untuk mengetahui bagaimana peran sebagai seorang spekulator, perhatikanlah dengan seksama papan trading, lihat satu per satu jenis komoditas dari awal sampai akhir. Sekarang, bayangkan seorang petani telah menanam gandumnya sejak 3 bulan yang lalu. Beberapa bulan mendatang, gandum tersebut siap dipanen. Setelah melakukan perhitungan dan analisis mendalam, petani tersebut menghitung bahwa biaya yang dihabiskan untuk sampai panen gandum adalah $ 2 per gantang termasuk biaya overheadnya. Untuk memperoleh keuntungan, petani harus menjual gandum tersebut diatas harga $ 2 per gantang.

Asumsikan, untuk memperoleh keuntungan, gandum tersebut dijual dengan harga $ 3 per gantang, tetapi dalam beberapa pekan ini harga di pasaran sedang turun/murah. Petani tersebut masih memiliki 3 bulan lagi sebelum datang musim panen, apa yang bisa dilakukan agar tetap memperoleh keuntungan saat panen? Petani tersebut memperkirakan, jika harga terus turun sampai masa panen, dimungkinkan harga jualmu akan lebih rendah dari $ 2 per gantang, padahal itu adalah biaya yang sudah dikeluarkan. Sekarang, apa yang harus dilakukan? Petani (bisa) menjual hasil panen melalui kontrak berjangka (future) dengan menghubungi broker komoditas dan menjual sebuah kontrak berjangka dengan harga $ 3 per gantang dengan waktu penyerahan (delivery) 3 bulan dari sekarang, misalnya Desember. Resiko yang dihadapi adalah jika harga naik dalam jangka waktu 3 bulan tersebut, petani tersebut hanya bisa memperoleh harga $ 3 karena ia telah menjualnya di awal hanya dengan $ 3. Sebaliknya, jika harga turun lebih rendah dari $ 3, petani tersebut tetap bisa menjual dengan $ 3 karena ia telah mengunci harga tersebut. Ini merupakan pilihan yang tepat untuk menghadapi masa panen. Proses ini disebut dengan lindung nilai (hedging).

Jika petani tersebut meminta broker-nya untuk menjual kontrak (mengambil posisi short), maka ia bertindak sebagai perantara yang akan membantu petani tersebut mencarikan seseorang untuk membeli kontraknya. Siapa yang bisa membeli kontrak atas gandum tersebut dengan harga $ 3? Pembelinya dapat berasal dari perusahaan besar seperti Wonder Bread. Pihak yang membeli gandum akan konsen terhadap kenaikan harga dalam 3 bulan mendatang. Pihak tersebut ingin menjaga kepentingan terhadap kenaikan harga. Terlebih, jika ia sebagai spekulator yang mencari profit.

Jadi, petani tersebut menjual kontrak untuk menjaga agar tetap untung, begitu juga dengan pembeli, sedangkan broker adalah pihak perantara yang memperoleh fee atau komisi untuk melakukan kepentingan investornya agar bisa sedikit bisa tidur nyenyak.

Bahkan, insting sebagai seorang spekulator bisa diasah dengan menganalisa grafik pergerakan komoditas gandum. Harganya turun tetapi penurunan itu akan kembali pulih dan kembali terkoreksi. Coba bayangkan, bahwa dalam 3 bulan ke depan, harga akan naik menjadi $ 3.5 bukan $ 3 seperti yang dijual hari ini. Ada kesempatan dapat menjual kontrak hari ini dengan harga $ 3 dan (bisa) menjualnya dalam beberapa bulan ke depan dengan harga $ 3.5. Jika dugaan tersebut benar dan harga memang naik, maka akan diperoleh keuntungan dari kontrak berjangka komoditas. Jika kontrak dibeli hari ini dengan harga $ 3, maka dijamin bahwa di akhir kontrak, harga akan dikunci pada $ 3 walaupun harga di pasar lebih tinggi.

Sebaliknya, jika harga gandum turun, akan ada kehilangan uang. Bagaimana bisa kehilangan uang? Jika harga gandum 3 bulan mendatang adalah $ 2.5 dan pembeli telah sepakat untuk membelinya saat jatuh tempo sebesar $ 3, berarti ia kehilangan uang sebesar 50 sen dikalikan dengan jumlah kontrak, misal 5.000 gantang. Perbedaan saham dengan komoditas adalah pada aspek leverage yang dimiliki. Misal dengan jumlah kontrak komoditas sebanyak 5.000 gantang, kamu sejatinya bukan membeli atau menjual 5.000 gandum, tetapi hanya mengontrol 5.000 gantang gandum. Pembeli hanya menaruh deposit awal atau yang disebut initial margin sebesar $ 540. Jadi, dengan margin sebesar $ 540 mengontrol satu kontrak untuk 5.000 gantang gandum.

Jika pembeli benar-benar membeli secara ril, maka ia harus mengeluarkan uang sebanyak $ 15.000 ($ 3 x 5.000 gantang). Inilah yang dinamakan faktor leverage. Dengan future contract, ia mengontrol 5.000 gantang hanya dengan $ 540 berupa setoran margin. Sekarang perhatikan, berapa uang yang harus dikeluarkan untuk 5.000 gantang jika harga naik.

Jumlah gandum dibeli                5,000

Harga disepakati                       x $3.00

Jumlah uang dibayar              $15,000

Jika, harga gandum naik menjadi $ 3.5 per gantang, maka akan diperoleh keuntungan sebesar 50 sen per gantang atau setara $ 2.500 (5.000 x 50 sen). Pembeli memperoleh tingkat keuntungan sebesar 17 % hanya dalam waktu 3 bulan. Tidak terlalu jelek. Selanjutnya, perhatikan apa yang terjadi jika membeli future contract. Ingat kembali margin yang disetor sebesar $ 540 dalam kontrak berjangka atas 5.000 gantang gandum sebelumnya. Jika harga gandum naik menjadi $ 3.5, pembeli dapat menjual pada harga itu, maka ia memperoleh keuntungan sebesar 50 sen per gantang atau $ 2.500 untuk 5.000 gantang gandum. Keuntungan tersebut setara dengan 463% karena kamu hanya menyetor margin sebanyak $ 540. Bandingkan jika  membelinya dengan tunai, pembeli hanya memperoleh tingkat keuntungan sebesar 17% saja. Inilah yang dinamakan dengan faktor leverage.

Dalam beberapa waktu, pembeli future memiliki peluang untuk memperoleh untung dan peluang yang sama untuk menderita kerugian. Penting untuk diingat, potensi kerugian yang akan diderita juga bersifat leverage. Anggaplah dengan menggunakan ilustrasi sebelumnya, jika harga gandum turun menjadi $ 2.5, maka kerugian yang diderita adalah sebesar $ 2.500 (5.000 x -50 sen).

Gambaran operasional dari kontrak berjangka seperti yang terlihat dalam gambar 1 dibawah ini.

Gambar 1

Proses Perdagangan dan Cash Settlement di Futures Markets

 Sumber: Hakim dan Lukman, 2009: 82

4.    Salam

Mazhab Syafiiyah dan Hanabilah mendefenisikan salam sebagai akad terhadap objek tertentu dengan ketentuan khusus (dalam tanggungan) dimana penyerahan dilakukan secara tunda dan pembayaran harga di tempat akad (di awal)[24]. Dinamakan dengan akad salam atau salaf karena adanya penyerahan harga di awal atau di tempat berlangsungnya akad. Substansi yang sama juga datang dari Ibn Abidin[25], ulama mazhab Hanafiyah, mendefenisikan salam sebagai : ”Syira-u Aajilin bi ’Ajilin” (jual beli dengan (pembayaran) harga di awal dan penyerahan secara tunda.

Berdasarkan defenisi sebelumnya, hakikat salam bisa diartikan sebagai salah satu bentuk jual beli dan utang-piutang. Jumhur ulama dari empat mazhab sepakat bahwa salam merupakan salah satu bentuk jual beli, sehingga berlaku padanya rukun dan syarat jual beli secara umu[26]. Ibn Hazm dan sebagian ulama Syafiiyyah berpendapat bahwa salam bukan jual beli sehingga tidak bisa menggunakan lafaz jual beli secara umum[27].

Berikut adalah tabel syarat khusus salam yang dikemukakan 4 (empat mazhab).

Tabel 2 Syarat Khusus Salam Menurut 4 (Empat) Mazhab

Mazhab

Syarat Terkait

Modal Salam

Barang Salam

Syafi’iyyah –   Diserahkan di majlis akad –   Jatuh tempo harus jelas
–   Merupakan barang yang mampu diserahkan
–   Kadar harus jelas
–   Sifat harus jelas
–   Menjadi utang bagi penjual
–   Tempat penyerahan harus jelas dan ada biaya transportasi jika ada usaha memindahkan barang
Hanabilah –   Penyerahan modal harus penuh saat akad –   Punya sifat yang jelas dan membedakan dengan yang lain
–   Harga harus jelas –   Kadar harus jelas
–   Jatuh tempo harus jelas
–   Ada saat jatuh tempo
–   Berada dalam tanggungan penjual
–   Tempat penyerahan harus jelas
Malikiyyah –   Diterima saat akad –   Bukan merupakan makanan atau mata uang
–   Bukan merupakan makanan atau mata uang –   Jatuh tempo lebih dari setengah bulan
–   Kadar harus jelas menurut kebiasaan suatu negeri
–   Punya sifat yang jelas dan membedakan dengan yang lain
–   Ada saat jatuh tempo
Hanafiyyah –   Diterima saat akad –   Kadar, jenis, macam dan sifat harus jelas
–   Modal harus jelas –   Jatuh tempo harus jelas
–   Modal dalam bentuk uang –   Tempat penyerahan barang harus jelas
–   Tidak boleh mengandung ilat riba –   Tidak boleh ada khiyar
–   Tidak boleh mengandung ilat riba
Sumber: diolah dari Umar  (1991, 20-21) seperti yang dikutip dari Al Syarbiny (1958, 2: 102); Al Ramly (1967, 4: 183); Ibn Qudamah (1972,4: 313); Al Khursy (tth, 5: 202); Al Khatab dan Al Mawaq (tth, 4: 514), Ibn Abidin (1966, 5: 209) dan Ibn Al Hamam (5: 323)

Menurut jumhur ulama selain Malikiyah tidak membolehkan terjadinya penangguhan penyerahan modal salam dari majlis akad. Mereka beralasan bahwa hal itu akan menyebabkan terjadinya jual beli utang dengan utang. Ini merupakan transaksi yang dilarang. Selain adanya penyerahan modal di tempat akad bisa sesuai dengan tujuan adanya akad salam. Malikiyah membolehkan penundaan pembayaran modal dari majelis akad tetapi dengan ketentuan tidak boleh lebih dari 3 hari karena penundaan selama masa tersebut masih dikategorikan sebagai penundaan yang bisa ditolerir.

Terkait dengan syarat bahwa barang salam harus bisa diserahkan saat jatuh tempo. Ibn Qudamah mensyaratkan bahwa barang salam harus ada dan eksis saat jatuh tempo sehingga bisa untuk diserahkan dalam kondisi umum dan tidak ada kemungkinan lain. Sementara saat akad, menurut jumhur ulama selain Hanafiyah bahwa barang salam tidak mesti harus sudah ada sampai jatuh tempo. Begitu juga bahwa transaksi salam tidak mensyaratkan barang berada pada pihak penjual tetapi hanya diharuskan ada pada waktu yang telah ditentukan.

5.    Analisis Perbandingan Kontrak Berjangka dan Akad Salam

Analisis konfirmasi perbandingan kedua variabel ini akan dilakukan dilakukan berdasarkan indikator dan sub indikator dibawah ini.

 

Item

Sub Item

Mekanisme Perdagangan Future Contract Pihak Terkait Pelaku transaksi
Broker
Clearinghouse
Objek Underlying Asset
Delivery, Offsetting, dan Cash Settlement
Harga Penetapan Harga
Initial Margin
Maintenance Margin
Margin Call
Transaksi Registrasi
Marking to Market
Motif
Akad Salam Aqidain Memiliki kecakapan dalam bertindak
Memiliki otoritas penuh dalam transaksi
Barang Salam Barang dalam tanggungan
Barang salam tidak mengandung illat riba
Spesifikasi barang diketahui dengan jelas
Jatuh tempo diketahui dengan jelas
Harga/Modal Salam Harga diketahui dengan jelas
Diserahkan di majlis akad
Sighat Indikasi ijab dan qabul yang jelas
Indikasi kerelaan kedua pihak
Kesesuaian ijab dan qabul
Sumber: diolah dari berbagai sumber

Pihak yang terlibat dalam mekanisme perdagangan kontrak berjangka, adalah pembeli (investor beli), penjual (investor jual), broker dari kedua pihak dan clearing house. Dalam konsep dan transaksi salam, wujud perantara (wakil) dan penjamin (kafil) dimungkinkan untuk dilakukan secara fungsi. Penjaminan yang dilakukan adalah terhadap utang salam. Hal ini dapat dilakukan dengan mendokumentasikan melalui tulisan atau dengan saksi dan dengan menggunakan pihak lain sebagai penjamin (kafil). Berdasarkan konfirmasi terhadap konsep salam tersebut, maka diketahui bahwa hanya mazhab Hanabilah yang melarang wujud fungsi penjamin. Tetapi alasan pelarangan tersebut tidak disebutkan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa wujud dan fungsi pihak yang terkait dengan kontrak berjangka tidak bertentangan dengan prinsip Islam dan konsep salam

Dalam mekanisme perdagangan kontrak berjangka, yang dijadikan objek transaksi antara kedua pihak bukanlah benda atau harta tetapi hanya bersifat underlying asset tertentu yang tidak dilihat fisiknya secara aktual. Hal itu hanya standarisasi objek yang telah dibuat oleh clearinghouse. Bahkan, objek tersebut hanya berupa dokumen bukan aktual komoditas. Kolb (1988) seperti yang dikutip Khan[28] menulis,

”Future markets were made only to sell and purchase contract documents which were called futures and not for actual trade or exchange of commodities”

Dalam kontrak berjangka yang berakhir dengan cash settlement, hasil yang akhir yang diperoleh antara pihak yang untung dan rugi juga bernilai nol. Dalam ilustrasi mekanisme perdagangan sebelumnya dijelaskan bahwa kerugian petani komoditas di bursa komoditas akibat penurunan harga future memberikan konsekuensi petani harus menyerahkan sebesar kerugian tersebut kepada pedagang roti.

Saat beli/jual       = Rp 20,2 x 5.000 gantang         = Rp 101.000,-

Settlement date   = Rp 21,2 x 5.000 gantang         = Rp 106.000,-

Cash settlement  = Rp 1  x 5.000 gantang             = Rp     5.000,-

Jadi selisih nilai sebesar Rp 5.000 yang harus dibayarkan oleh petani kepada pengusaha roti bukan Rp106.000,-

Eksistensi zero sum game diakui oleh banyak pakar dan pelaku transaksi di Barat, tempat kontrak berjangka muncul dan berkembang pesat. Alan Greenspa[29] mengatakan dalam sebuah forum Futures Industry Association,

Overall, derivatives are mainly a zero sum game: one counterparty’s market loss is the other counterparty’s market gain

Secara substansi, cash settlement di akhir kontrak juga bisa dimaknai hanya sebagai pertukaran uang dengan uang dengan kelebihan tentu. Pihak yang untung akibat proses marking to market  atau setelah offsetting position akan menerima uang dan menambah marjin yang disetor ke clearinghouse dan berlaku sebaliknya bagi pihak yang rugi. Dalam pandangan Islam, jelas bahwa transaksi ini substansinya adalah transaksi ribawi atas barang ribawi karena mengandung illat mata uang.

Sedangkan dalam konsep salam, barang yang dijadikan barang salam adalah harta secara fisik bukan hanya underyling asset. Modal salam diberikan secara penuh diawal kepada penjual sebagai modal untuk membiayai pertanian dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Wujudnya penyerahan modal salam diawal secara penuh merupakan bukti adanya kepemilikan. Tidak dibenarkan penjualan kembali barang salam oleh pembeli sebelum penerimaan. Terjadinya penyerahan fisik secara aktual oleh penjual kepada pembeli. Kalaupun ada penjualan dilakukan dalam salam paralel dan ini merupakan akad yang terpisah.

Mekanisme pembentukan harga future per kontrak adalah dengan supply and demand. Jika banyak trader yang melakukan transaksi jual pada maturitas suatu future, maka harga akan turun dan sebaliknya[30].

Perlu dicermati bahwa pembentukan harga dari equiblirium yang terjadi dari interaksi demand and supply pada kontrak berjangka pada bursa komoditas adalah interaksi yang tidak berlandaskan sepenuhnya pada kondisi ril dari ketersediaan komoditas yang diperdagangkan. Pembentukan harga yang terjadi tidak ada hubungan dengan pasar tunai (spot market). Interaksi ini adalah interaksi yang palsu dan dibuat oleh para pemain dalam kontrak berjangka (main-made).

Kolb (1988) sebagaimana dikutip Khan[31] menjelaskan,

But the Futures market being totally independent and separate from the cash market is quite likely to give wrong signals to the farmer and the farmer not being a player of the Futures market and having forced to compete the professional speculators, they may often end up being exploited by the wrong signals.

Substansi dari permintaan dan penawaran yang palsu merupakan hal yang dilarang oleh Islam. Islam menjelaskan bahwa permintaan palsu itu adalah bai najasy. Tujuan dari adanya bai najasy ini adalah agar terjadi kenaikan harga diatas harga normal dengan melakukan permintaan palsu, dimana yang menawarkan tidak untuk membeli barang. Sementara penawaran palsu juga mempunyai semangat yang sama yaitu untuk menaikkan harga diatas harga normal dengan membuat langka dengan sengaja ketersediaan barang di pasaran. Hal ini dilakukan dengan cara menimbun barang. Tindakan ini disebut dengan ihtikar. Keduanya baik bai najasy dan ihtikar adalah tindakan yang dilarang dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda,

مَنِ احْتَكَرَ فَهُوَ خَاطِئٌ

”Siapa yang melakukan ihtikar (menimbun barang), maka ia telah membuat kesalahan” (HR. Muslim)

نَهَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ النَّجْشِ

”Nabi SAW melarang jual beli najasy” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan dalam salam, pembentukan harga atau modal salam adalah hasil interaksi antara permintaan dan penawaran dari kedua pihak. Jika terjadi kesepakatan, maka pembeli harus menyerahkan uang secara penuh kepada penjual dan ini menjadi utang salam bagi penjual.

Kontrak berjangka di bursa dengan clearinghouse sebagai perantara dan penjamin transaksi yang terjadi antara penjual dan pembeli, melakukan marking to market atas posisi masing-masing peserta bursa di akhir hari. Proses marking to market akan memberikan konsekuensi kepada saldo marjin masing-masing peserta. Wujudnya dan dilegalkannya aksi spekulasi dan arbitrasi memberikan makna bahwa substansi marking to market tersebut hanyalah untuk mendistribusikan akibat dari aksi spekulasi kepada masing masing pihak.

Stulz[32] mengutip pernyataan Warren Buffett tentang proses marking to market dengan menyebutkan dengan proses untuk menyesuaikan dengan suatu mitos,

“In extreme cases, mark-to-market degenerates into what I would call mark-to-myth”

Dominasi spekulasi dalam kontrak berjangka menyebabkan substansi transaksi bergeser dan menjauh dari semula untuk lindung nilai terhadap fluktuasi harga komoditas di masa datang. Maksud semula untuk mempertemukan para hedger atau para hedger dengan spekulan, kontrak berjangka hanya mempertemukan spekulan dengan spekulan. Akibatnya motif untuk menerima barang tidak lagi menjadi tujuan. Tujuan transaksi telah berubah menjadi sarana untuk mencari keuntungan dari pergerakan dan fluktuasi harga komoditas. Bahkan fluktuasi ini sengaja dibuat dengan aksi spekulasi.

Kunhibava[33] mencatat berdasarkan data Office of Comptroller of the Currency (OCC) pada tahun 2005, di Amerika Serikat transaksi derivatif hanya didominasi oleh 5 bank komersial. Transaksi mereka menguasai sekitar 96%.  Hanya sekitar 2,7 % yang dilakukan oleh end user seperti perusahaan yang bermaksud melakukannya untuk tujuan lindung nilai. Ini menjelaskan bahwa pasar didominasi oleh para spekulan. Motif terbesar dari kontrak berjangka adalah untuk tujuan spekulasi dan arbitrasi. Arbitrasi adalah aksi mengambil keuntungan dengan selisih harga suatu komoditas di dua pasar yang berbeda. Arbitrasi memungkinkan pelakunya memperoleh keuntungan tanpa mengeluarkan sedikitpun uang atau modal.

Chance[34] menjelaskan,

”Arbitrage occurs when equivalent assets or combinations of assets sell for two different prices. This situation creates an opportunity to profit at no risk with no commitment of money”

Posisi Islam sangat jelas terhadap spekulasi. Spekulasi adalah salah satu bentuk dari judi yang dilarang dan merupakan tindakan setan. Islam menganut prinsip utama dalam memperoleh keuntungan yaitu al-ghunmu bil ghurmi wal kharaj bidh dhaman. Karakteristik salam dengan penyerahan modal di awal akan menimalisir terjadinya aksi spekulasi. Motif transaksi salam adalah murni untuk melakukan lindung nilai.

6.    Kesimpulan

Konfirmasi perbandingan konsep kontrak berjangka dengan akad salam memiliki persamaan tetapi berbeda dalam hal pemberian modal di awal. Kontrak berjangka adalah kesepakatan untuk melakukan jual beli dan pertukaran di masa datang atau pertukaran (jual beli) utang dengan utang. Dalam Islam, substansi ini dinamakan dengan jual beli dayn bi dayn atau al-kali bil kali yang merupakan transaksi dilarang. Sementara salam adalah jual beli sebenarnya bukan hanya kesepakatan. Salam merupakan kebalikan dari jual beli secara tangguh atau bai bitsaman ajil. Sementara konfirmasi dengan mekansime kontrak berjangka menghasilkan banyak perbedaan dalam hal objek transaksi yang berkaitan dengan kepemilikan barang, mengandung illat riba, dan penyerahan barang secara aktual di akhir kontrak; harga objek transaki yang berkaitan dengan penyerahan harga dan konsep uang muka atau marjin; dan motif transaksi dalam hal spekulasi dan arbitrasi.

7.    Daftar Pustaka

Administrator. “Futures Fundamentals Tutorial”. http://www.investopedia.com/university/ futures/ diposting 01/25/2006

Al Buhuty, Mansur ibn Idrid ibn Yunus. 1996. Syarhu Muntahal Ira>dat. Beirut: ‘Alimul Kutub.

Al Bukhari, Muhammad ibn Ismail ibn Abdillah. 1987. Al Ja>mius S}ahi>h al-Muk}tas}ar. Beirut: Dar Ibn Katsir,

Al Hatab. 2003. Mawa>hibul Jali>l li Syarhi Muk}tasaril K}ali>l. Beirut: Daru ‘Alamil Kutub

Al Kasani, ‘Alauddin. 1982. Bada>i’us S}ana>’i. Beirut: Darul Kitab Al ‘Araby.

Al-Amine, Muhammad Al-Bashir Muhammad. tth. “Derivatives Instruments in Commodity Markets: An Islamic Analysis”. Malaysia

Al-Yousef, Yousef Khalifa. tth. ”Speculative Capital: An Islamic View,”

Asy Syarbiny, Muhammad Al Kahtib. 1958. Mug}niyul Muhta>j. Mesir: Mustafa Al Bany.

Bacha, Obiyathulla Ismath. 1999.. ”Derivative Instruments And Islamic Finance: Some Thoughts For A Reconsideration”, International Journal of Islamic Financial Services; Vol. 1, No. 1, April – June 1999.

Chance Bon. M. 2003. Analysis of Derivatives for the CFA Program. Virginia: AIMR

Chorafas, Dimistris N. 2008. Introduction to Derivative Financial Instruments. United States of America: Mc-Graw Hill

Fabozzi, Frank J. et.al. 2002. The Global Money Market. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

Gresspan, Alan. “Financial Derivatives,” http://www.federalreserve.gov/boarddocs/speeches/1999/19990319.htm (akses: 10/11/09)

Hakim, Adril dan Lukman. 2009. “Kontrak Berjangka Komoditi (Future Contract) dalam Pandangan Syariah,” Jurnal SEBI. Vol. 2, Juli 2009, hlm. 77-102

Hull, John C. 2006. Options, Futures, and Other Derivatives, 6th Edition. New Jersey: Prentice Hall.

Ibn Abidin. 1966. Ha>syiyatu Raddil Muk}ta>r. Mesir: Mustafa Al Bany.

Ibn Hazm. Tth. Al Muhalla>. Beirut: Darul Fikr.

Ibn Qudamah, Abdullah ibn Ahmad. 1405H. Al-Mug}ni fi Fiqhil Ima>m Ahmad ibn Hanbal al-Syaiba>ni. Beirut: Dar el-Fikr.

Jorion, Philippe. 2003. Financial Risk Management Handbook Second Edition. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc..

Kamali, Mohammad Hashim. tth. “Fiqhi Issues In Commodity Futures”. Malaysia, p. 1045-1073.

Khan, Muhammad Akram. 2008. “Commodity Exchange and Stock Exchange in an Islamic Economy,” An Introduction to Islamic Economics and Finance. Kuala Lumpur: CERT Publications Sdn Bhd, p. 389-421.

Khan, Muhammad Fahim. 1997. “Islamic Futures and Their Markets with Special Reference to their Role in Developing Rural Financial Market,” IRTI-IDB Research Paper, Jeddah: IRTI-IDB, p. 1-75.

Kunhibava, Sherin. 2010. ”Derivatives in Islamic Finance,” International Shariah Research Academy for Islamic Finance (ISRA) Research Paper. No. 7/2010

Lore, Marc, Lev Borodovsky. 2000. The Professional’s Handbook of Financial Risk Management. Oxford: Butterworth-Heinemann.

Mishkin, Frederic S. 1998. The Economic of Money, Banking, and Financial Markets. New Jersey: Prentice Hall.

Muslim, Abul Husain Muslim ibn Hajjaj. tth. S}ahi>h Muslim. Beirut: Darul Jil.

National Futures Association. 2006. Opportunity and Risk: An Educational Guide to Trading Futures and Option on Futures. Illionis: NFA.

Powers Mark. J., David J. Vogel. 1981. Inside The Financial Futures Markets. Singapore: John Wiley & Son Inc..

Risman, Asep. “Antara Pembiayaan Syariah & Perdagangan Berjangka (1)”. Analisis Investasi. Bisnis Indonesia. Jakarta. 3 Oktober 2007

Rubinstein, Mark. 1999. Rubinstein on Derivatives. London: Risk Books.

Sakti, Ali. 2007. Analisis Teoritis Ekonomi Islam Jawaban atas Kekacauan Ekonomi Modern. Jakarta: PARADIGMA & AQSA Publishing.

Stulz, Rene M. 2006. ”Demistifying Financial Derivatives,” Cornerstone Research. Milken Institute Review and Journal of Economics Perspectives.

Umar, Muhammad Abdul Halim. 1991. Al It}a>rus Syar’I wal Iqtis}a>dy wal Muha>siby li Ba’is Salam. Jeddah: IDB.

Vogel, Frank E., Samuel L. Hayes III. 1998. Islamic Law and Finance: Religion, Risk and Return. Netherlands: Kluwer Law International.


[1]Frederic S. Mishkin, 1998. The Economic of Money, Banking, and Financial Markets (New Jersey: Prentice Hall), 255

[2]Obiyathulla Ismath Bacha, 1999. ”Derivative Instruments And Islamic Finance: Some Thoughts For A Reconsideration”,  International Journal of Islamic Financial Services, Vol. 1, No. 1 (April – June 1999), 2

[3]Ali Sakti, 2007. Analisis Teoritis Ekonomi Islam Jawaban atas Kekacauan Ekonomi Modern (Jakarta: PARADIGMA & AQSA Publishing), 236

[4]Asep Risman, “Antara Pembiayaan Syariah & Perdagangan Berjangka”, Bisnis Indonesia, 3 Oktober 2007

[5]Mohammad Hashim Kamali, tth. “Fiqhi Issues In Commodity Futures”, 1045-1073

[6]Ibid., 1072-1073

[7]Ibid., 1051-1053

[8]Muhammad Akram Khan, 2008. “Commodity Exchange and Stock Exchange in an Islamic Economy,” dalam An Introduction to Islamic Economics and Finance, (Kuala Lumpur: CERT Publications Sdn Bhd), 389-421

[9]Bon. M Chance, 2003. Analysis of Derivatives for the CFA Program (Virginia: AIMR), 26 & 82.

[10]John C. Hull, 2006. Options, Futures, and Other Derivatives, 6th Edition (New Jersey: Prentice Hall), 3.

[11]Philippe Jorion, 2003. Financial Risk Management Handbook Second Edition (New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.), 108; National Futures Association, 2006. Opportunity and Risk: An Educational Guide to Trading Futures and Option on Futures (Illionis: NFA), 14.

[12]Menurut catatan Wikipedia sebagaimana yang dikutip dari Aristoteles dalam Politics dan diterjemahkan oleh Benjamin Jowett, dalam The Great Books of the Western World, book 1, vol. 2,  chap. 11, p. 453, disebutkan bahwa model kontrak ini telah dilakukan oleh Thales dengan petani buah zaitun untuk melakukan lindung nilai terhadap harga saat masa panen. Dalam catatan lain juga disebutkan bahwa Jepang pada tahun 1730-an juga melakukan kontrak yang sejenis terhadap komoditas beras untuk memenuhi kebutuhan kaum Samurai. Mereka melakukan transaksi ini di pasar yang disebut the Dōjima Rice Exchange. Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Futures_contract (akses:7 April 2010)

[13]Dimistris N Chorafas, 2008. Introduction to Derivative Financial Instruments (United States of America: Mc-Graw Hill), 29.

[14]Jorion, Financial, 54.

[15]Hull, Options, 3

[16]Administrator. 2006. “Futures Fundamentals Tutorial”. http://www.investopedia.com/university/ futures/ diposting 01/25/2006

[17]Mark Rubinstein, 1999. Rubinstein on Derivative, (London: Risk Books), 57; Marc Lore, Lev Borodovsky, 2000. The Professional’s Handbook of Financial Risk Management, (Oxford: Butterworth-Heinemann), 13.

[18]Chorafas, Introduction, 273

[19]Mark. J. Powers, David J. Vogel, 1981. Inside The Financial Futures Markets, (Singapore: John Wiley & Son Inc.), 27.

[20]Hull, Options, 23&25

[21]Rubinstein, Rubinstein, 96

[22]Frank J. Fabozzi, et.al., 2002. The Global Money Market, (New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.), 210.

[23]Lore dan Borodovsky, The Professional’s, 13.

[24]Mansur ibn Idrid ibn Yunus Al Buhuty, 1958. Syarhu Muntahal Ira>dat. (Beirut: ‘Alimul Kutub, 1996), 288-289; Muhammad Al Kahtib Asy Syarbiny, Mug}niyul Muhta>j. (Mesir: Mustafa Al Bany), 102-103.

[25]Ibn Abidin. 1966. Ha>syiyatu Raddil Muk}ta>r. (Mesir: Mustafa Al Bany, 203.

[26]Abdullah ibn Ahmad Ibn Qudamah, 1405H. Al-Mug}ni fi Fiqhil Ima>m Ahmad ibn Hanbal al-Syaiba>ni. (Beirut: Dar el-Fikr), 312; Ibn Abidin. Ha>syiyatu, 209;

[27]Ibn Hazm. tth. Al Muhalla>. (Beirut: Darul Fikr), 105.

[28]Muhammad Fahim Khan, 1997. “Islamic Futures and Their Markets with Special Reference to their Role in Developing Rural Financial Market,” IRTI-IDB Research Paper, (Jeddah: IRTI-IDB, 1997), 20.

[29] Alan Gresspan, “Financial Derivatives,” http://www.federalreserve.gov/boarddocs/speeches/1999/19990319.htm (akses: 10/11/09)

[30]Hull, Options,22; Yousef Khalifa Al-Yousef, ”Speculative Capital: An Islamic View”, tth, 82.

[31]Khan, “Islamic”, 32.

[32]Rene M. Stulz, 2006. ”Demistifying Financial Derivatives,” Cornerstone Research. Milken Institute Review and Journal of Economics Perspectives, hlm.9.

[33]Sherin Kunhibava, 2010. ”Derivatives in Islamic Finance,” International Shariah Research Academy for Islamic Finance (ISRA) Research Paper. No. 7/2010, 2.

[34]Chance, Analysis, 16.

Discussion

One thought on “Analisis Perbandingan Kontrak Berjangka dengan Akad Salam (Konsep dan Mekanisme Transaksi)

  1. Reblogged this on Write! and commented:
    Akad salam ini termasuk akad yang jarang digunakan dalam dunia lembaga keuangan syariah. Tulisan ini adalah tulisan dari Ust. Sepky Mardian, dosen STEI SEBI yang pakar dalam bidang akuntansi syariah.

    Posted by alimurtadha | April 25, 2013, 5:49 am

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadis hari ini

Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya"
March 2013
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Follow me !

%d bloggers like this: