//
you're reading...
Akuntansi, Ekonomi Islam

Peran Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam Mengurai Kendala Aksestabilitas UKM terhadap Perbankan (Syariah)

Tulisan ini dimuat di Koordinat Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta, Volume XII, No. 2, Oktober 2012, hlm. 377-392, ISSN 1411-6154

Abstract

Tridharma functions require universities to contribute to community life. This function is possible to reduce the problem in the community. The lack of capital from the [Islamic] banking is one of the problem of SMEs to scale the business. The role of college students by form of research and and mentoring program will parse the lack of capital of SMEs from [Islamic] banking.

Keywords: tridharma, UMKM, perguruan tinggi, perbankan

A.    Pendahuluan

Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Koperasi dan UMKM tahun 2006-2010, jumlah UMK[i] mencapai 53,2 juta. Sejak 2006, usaha ini memiliki unit usaha dan serapan jumlah tenaga kerja yang mencapai lebih dari 90% usaha yang ada di Indonesia. Sedangkan kontribusi untuk PDB mencapai lebih dari 50% termasuk usaha menengah. Tetapi, sebaliknya perputaran uang yang terjadi dikuasai oleh usaha besar. Kondisi ini tentu tidak bisa dilepaskan dari peran industri perbankan sebagai sumber modal usaha.

Grafik 1. Data Perkembangan UMKM dan Usaha Besar Tahun 2006-2010

Sumber: www.depkop.go.id, diolah

Hasil kajian Kementerian KUKM dan BPS (2003) menunjukkan hanya sebagian kecil UKM yang mampu mengakses dana perbankan. Tercatat hanya 17,5% UKM yang memanfaatkan pinjaman modal, sisanya 82,5%. Mengakses permodalan dari lembaga non bank, seperti koperasi, perseorangan, modal ventura dan lain-lain. Alasan utama yang dikemukakan oleh UKM kenapa mereka tidak meminjam ke bank adalah: (1) prosedur sulit (30,30 %), (2) Tidak berminat (25,34 %), (3) Tidak punya agunan (19,28 %), (4) Tidak tahu prosedur (14,33 %), (5) Suku bunga tinggi (8,82 %), dan (6) Proposal ditolak (1,93 %)[ii].

Hasil studi Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang dilakukan di Sumatera Barat , Sumatera Selatan, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan dengan analisis SWOT, diidentifikasi masalah permodalan[iii] adalah diantara kelemahan (weakness) yang dimiliki UMKM. Diantara faktor yang menyebabkannya adalah kurangnya kemampuan usaha mikro untuk meningkatkan akses pasar, daya saing pemasaran, serta pemahaman regulasi pasar baik pasar domestik maupun pasar global; dan masih rendahnya kualitas SDM yang meliputi aspek kompetensi, keterampilan, etos kerja, karakter, kesadaran akan pentingnya konsistensi mutu dan standarisasi produk dan jasa, serta wawasan kewirausahaan.

B.     Tri Dharma Perguruan Tinggi

Pendidikan adalah sektor vital dalam pembangunan suatu negara. Kemajuan dan kualitas suatu negara juga ditentukan oleh kualitas pendidikan sumber daya manusia yang menjadi stakeholder dari suatu negara. Banyak negara berkembang yang beralih status menjadi negara maju karena telah jauh masa melakukan investasi dalam sektor pendidikan seperti Jepang, China, Malaysia, dsb. Berdasarkan data HDI yang dirilis UNDP, ketiga negara tersebut termasuk dalam 75 negara memiliki HDI tinggi[iv] dengan pendidikan sebagai salah satu variabelnya. Ini juga didukung dengan banyak perguruan tinggi berkualitas yang berada di negara-negara maju seperti Cambridge, Harvard, Durham, dll.

Perguruan tinggi merupakan institusi penyelenggara tertinggi yang melahirkan sumber daya yang siap memberikan kontribusi pada negara masyarakat dan negara. Untuk tujuan itu, maka dikenal tridharma perguruan tinggi sesuai dengan amanat UU Sisdiknas pasal 20 ayat 2[v]. Tiga konsen utama dan harus berjalan seimbang dan proporsional dari sebuah perguruan tinggi yaitu bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Setiap sivitas akademika perguruan tinggi melaksanakan ketiga fungsi tersebut. Untuk memacu pelaksanaan fungsi tersebut, pemerintah[vi] menjadikannya sebagai standar seperti dalam akreditasi dan sertifikasi tenaga pendidik.

 

Perpaduan penerapan ketiga peran ini secara seimbang akan menjadikan perguruan tinggi mampu melahirkan sumber daya insan yang insan intelektual, punya visi inovasi dan berdaya bagi masyarakat untuk menciptakan kualitas kehidupan yang semakin baik dalam bidang apapun.

  1. C.    Usaha Kecil Menengah

UKM (Usaha Kecil Menengah) atau UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) bukan terminologi yang hanya dikenal di Indonesia. UKM atau small and medium enterprises (SMEs) dikenal di semua negara dan memiliki peran yang juga diperhitungkan.

Definisi tentang UKM atau SMEs berbeda diantara negara. Setiap negara memiliki standar indikator masing-masing. Indikator yang lazim digunakan dalam mendefenisikan UKM atau SMEs adalah jumlah karyawan, total aset bersih, penjualan dan tingkat investasi[vii].

European Union dalam Article 2 of the Annex of Recommendation 2003/361/EC mendefinisikan SMEs dengan “usaha yang memiliki karyawan tidak lebih dari 250 orang, penjualan tidak lebih dari 50 juta euro dan total asset tidak lebih dari 43 juta euro”.

Tabel 1. Klasifikasi Badan Usaha

Sumber: European Commission

Di Indonesia pun, terdapat defenisi UKM yang beragam. BPS memberikan definisi UKM berdasarkan kuantitas tenaga kerja, yaitu untuk usaha kecil memiliki jumlah tenaga kerja lima sampai dengan 19 orang, sedangkan usaha menengah memiliki tenaga kerja 20 sampai dengan 99 orang[viii].

UU No 20 Tahun 2008 ini mendefenisikan,

“Usaha Mikro adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). Kemudian yang disebut dengan Usaha Kecil adalah entitas yang memiliki kriteria sebagai berikut : (1) kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; dan (2) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah). Sementara itu, yang disebut dengan Usaha Menengah adalah entitas usaha yang memiliki kriteria sebagai berikut: (1) kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; dan (2) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah)”.

Sajian lebih ringkas, sebagaimana dalam table berikut,

Tabel 2. Klasifikasi Badan Usaha [Indonesia]

Sumber: UU No 20 Tahun 2008

Keberadaan dan peran UKM terhadap perekonomian sangat besar, bahkan saat krisispun, usaha ini mampu bertahan. Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Koperasi dan UMKM, sejak 2006, usaha ini memiliki unit usaha dan serapan jumlah tenaga kerja yang mencapai lebih dari 90% usaha yang ada di Indonesia. Sedangkan kontribusi untuk PDB mencapai lebih dari 50% termasuk usaha menengah. Tetapi, sebaliknya perputaran uang yang terjadi dikuasai oleh usaha besar.

Tak hanya di Indonesia, di dunia pun, usaha ini memiliki peran besar. Seperti yang dikatakan Günter Verheugen, Member of the European Commission Responsible for Enterprise and Industry, “UKM merupakan engine bagi ekonomi Eropa. UKM merupakan sumber pekerjaan utama, mampu menciptakan semangat wirausaha dan inovasi…”[ix]. Di Uni Eropa yang meliputi 25 negara, 23 juta UKM mampu menyediakan 75 juta pekerjaan dan menguasai 99% jenis usaha.

  1. D.    Peran Perguruan Tinggi terhadap UKM

Seperti yang diamanatkan UU, perguruan tinggi harus memiliki peran kontribusi terhadap masyarakat berupa pengabdian. Hal ini bertujuan untuk memberikan solusi dan pemecahan terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Perguruan tinggi merupakan stakeholder yang diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap masyarakat, khusus usaha kecil menengah. Karsidi (2003) seperti dikutip dalam Karsidi (2005) menegaskan bahwa masing-masing stakeholder UMKM masih berjalan terpisah. Seharusnya semua stakeholder utama bias saling bersinergi dalam mengembangkan UMKM[x]. Karsidi (2005) menggambarkan pola sinergi antar stakeholder terhadap UMKM sebagai berikut:

Gambar 2. Hubungan Para Stakeholder terhadap UMKM

Sumber: Karsidi (2005)

Seperti yang dikutip Karsidi (2005) dari LPPM UNS (2005) yang mengidentifikasi peran perguruan tinggi dalam menyiapkan SDM UKM, yaitu: melakukan pengembangan desain dan standarisasi kualitas; pelaksanaan dan aplikasi kepada masyarakat warga belajar; dan pembukaan training centre dan show room hasil produksi.

Model tridharma perguruan tinggi di bidang pengabdian masyarakat bukan hanya ada di Indonesia. Sejumlah universitas di dunia secara rutin juga mengeluarkan laporan (report) tentang interaksi dan kontribusi mereka terhadap masyarakat (society) lokal di sekitar kampus atau masyarakat dunia. Arah pengabdian yang dilakukan juga disesuaikan dengan kurikulum inti/program pendidikan yang mereka lakukan.

Di Jepang, laporan Tokai University (TU) telah melakukan riset untuk kepentingan masyarakat lokal mencapai 900  sampai  1000 kontrak per tahun dengan anggaran mencapai 2.000 juta Yen/tahun. TU juga telah berkontribusi memberikan kuliah khusus terhadap anak-anak sekolah, dewasa, memberikan pembekalan terhadap para guru, memberikan jasa konsultasi terhadap kebijakan pemerintah daerah dan memperkenalkan sistem energi terbaru[xi].

Di USA, University of Washington juga melaporkan kontribusi mahasiswa mereka terhadap masyarakat. Bidang pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah layanan volunteer, magang, penelitian dosen, and kuliah kerja nyata (KKN). Sedangkan untuk alumni, aktifitas pengabdian masyarakat mereka meliputi dukungan penampungan tunawisma, sekolah alumni organisasi, kampanye politik, dan keamanan publik[xii].

Dalam bentuk yang lebih khusus terhadap UKM, JISC Scholarly Communications Group mengeluarkan sebuah laporan yang berjudul “Study on The Availability of UK [United Kingdom] Academic “Grey Literature” to UK SMEs”. Laporan ini menjelaskan pola interaksi dan transfer keilmuan lembaga pendidikan terhadap UKM di Inggris dalam bentuk konsultasi, pelatihan, dan kesempatan jaringan/klub bisnis. JISC merekomendasikan peran universitas dalam penyediaan literatur untuk pengembangan bisnis UKM yang mudah diakses seperti melalui website dan dorongan melakukan penelitian dalam menunjang operasional UKM yang lebih baik[xiii].

  1. E.     Peran Bank Syariah terhadap UKM

Pengembangan perbankan syariah di Indonesia mengacu pada Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah Indonesia yang disusun oleh Bank Indonesia. Visi pengembangan bank syariah yang ditetapkan adalah “terwujudnya sistem perbankan syariah yang kompetitif, efisien, dan memenuhi prinsip kehati-hatian serta mampu mendukung sektor riil secara nyata melalui kegiatan pembiayaan berbasis bagi hasil dan transaksi riil dalam kerangka keadilan, tolong menolong dan menuju kebaikan guna mencapai kemaslahatan masyarakat”. Visi untuk mendukung sektor ril ini kemudian disesuaikan dengan profil ekonomi Indonesia yang dikuasai lebih dari 90% oleh UMKM.

Berdasarkan data Statistik Perbankan Syariah per Juni 2012, terdapat 11 Bank Umum Syariah, 24 Unit Usaha Syariah dan 156 BPRS dengan total jumlah kantor mencapai 2.377 unit yang tersebar di Indonesia. Dengan jumlah jaringan tersebut, pangsa pasar bank syariah Indonesia telah mencapai 4,23% dari total bank nasional. Dengan FDR mencapai 129,73%, bank syariah telah memberikan pembiayaan untuk sektor UKM sebesar 83,1 triliun atau mencapai 69% dari total pembiayaan.

Data diatas menggambarkan peran dan kontribusi bank syariah dalam mendukung perkembangan UKM di Indonesia.

Grafik 2. Porsi Pembiayaan Bank Syariah terhadap UKM dan non-UKM per Juni 2012

Sumber: BPS BI per Juni 2012 (diolah)

Penyaluran pembiayaan terhadap UKMM tersebut dilakukan bank syariah dalam berbagai media seperti produk pembiayaan mikro, program linkage dengan melalui lembaga pembiayaan mikro seperti KJKS atau BMT atau program khusus dari bank syariah terkait seperti warung mikro BSM, dll. Selain itu, bank syariah juga ikut menyukseskan program pemerintah dengan ikut serta dalam penyaluran KUR (Kredit Usaha Rakyat) dan fasilitas pembiayaan kepemilikan rumah yang menjadi program pemerintah. Bank syariah yang ikut serta menjadi bank penyalur KUR ini adalah Bank Syariah Mandiri dan BNI Syariah. Per Mei 2012, BSM telah menyalurkan plafond KUR sebesar Rp. 2,1 triliun, lebih tinggi dari penyaluran yang dilakukan oleh Bank Bukopin yang hanya mampu menyalurkan Rp 1,1 triliun.

Tabel 3. Plafond Penyaluran KUR berdasarkan Bank Penyalur per Mei 2012

No

Bank Penyalur

Jumlah

1

Bank Rakyat Indonesia (BRI)

Rp. 46,6 triliun

2

Bank Negara Indonesia (BNI)

Rp. 8,1 triliun

3

Bank Mandiri

Rp. 7,8 triliun

4

Bank Tabungan Negara (BTN)

Rp. 2,5 triliun

5

Bank Syariah Mandiri

Rp. 2,1 triliun

6

Bank Bukopin

Rp. 1,1 triliun

Sumber: www. komite-kur.com (diolah)
  1. F.     Pembahasan

Idealnya, masyarakat dan perguruan tinggi adalah dua elemen yang saling membutuhkan. Keduanya dapat membangun hubungan simbiosis mutualisme untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan kualitas pendidikan perguruan tinggi. Keterkaitannya dihubungkan dengan proses pendidikan, kewajiban penelitian dan kewajiban pengabdian masyarakat dalam bentuk segitiga yang saling terkait. Fungsi ini merupakan 1 (satu) dari 4 (empat) fungsi perguruan tinggi yang diperkenalkan oleh Manuel Castells (2001)[xiv]. Keempat fungsi dimaksud adalah fungsi pengarah idiologi, fungsi yang menjalankan mekanisme seleksi dan sosialiasi kalangan intelektual [elit], sumber keilmuan dan fungsi melahirkan professional. Perguruan tinggi diharapkan menjadi agen perubahan sosial bagi masyarakat atau yang sering disebut sebagai agent of change. Dalam skala yang lebih luas, dimensi perubahan/kontribusi yang dilakukan, dapat meliputi ekonomi, politik, struktur sosial dan budaya[xv].

Proses pendidikan akan memberikan dan melahirkan ide dan inspirasi terhadap lahirnya banyak penelitian. Selain proses pendidikan, ide dan inspirasi penelitian juga bias diperoleh dari dinamika kehidupan masyarakat baik lokal maupun nasional bahkan internasional. Selanjutnya hasil penelitian yang diperoleh akan menjadi bahan ajar yang berkualitas dan update bagi proses pendidikan sekaligus menjadi rangkaian aplikasi dan inovasi yang akan digunakan dalam kehidupan masyarakat yang sifatnya memberikan efektivitas dan efisiensi kehidupan. Disisi lain, proses pendidikan akan memberikan arahan terhadap model dan bentuk pengabdian yang akan dilakukan terhadap masyarakat dan pada akhirnya dalam jangka panjang, pengabdian tersebut akan membentuk jiwa-jiwa yang memiliki semangat pengabdian dan kepedulian. Hubungan dan keterkaitan fungsi ini yang dinamakan dengan tridharma perguruan tinggi.

Kemajuan suatu bangsa, diantaranya juga ditentukan oleh peran strategis ini. Peran ini menjadi kontrol untuk menjadikan perguruan tinggi tidak menjadi menara gading bagi lingkungan sekitar. Kualitas kehidupan masyarakat akan semakin meningkat dengan berjalannya fungsi ini.

Salah satu masalah yang dihadapi masyarakat dan seharusnya bias dijembatani oleh perguruan tinggi [jurusan akuntansi] adalah masalah rendahnya aksestabilitas masyarakat terhadap modal dari perbankan [syariah]. Masalahnya tentu tidak hanya semata berupa ketidakmampuan masyarakat menjadikan usaha yang bankable, tetapi juga faktor fungsi perbankan yang juga hanya sebatas intermediary. Kepercayaan dari nasabah penabung menjadi pertimbangan utama dalam memberikan atau menyalurkan pembiayaan atau kredit kepada masyarakat. Wujudnya resiko gagal bayar adalah faktor utama. Secara teori, potensi gagal bayar tersebut bisa diminimalisir dengan adanya kontrol terhadap kesediaan laporan keuangan yang dimiliki masyarakat. Ini merupakan bukti awal yang memberikan kepercayaan terhadap tingkat bankable suatu usaha.

Sebagai stakeholder yang memiliki tanggung jawab dan kepentingan terhadap perkembangan UMKM terutama dalam akses modal terhadap perbankan, maka peran pengabdian masyarakat yang bisa dijalankan oleh perguruan tinggi, terutama untuk jurusan atau program studi akuntansi [syariah] adalah dengan penelitian dalam bentuk strategis dan pola pendampingan dalam bentuk teknis.

Dalam bidang penelitian, kondisi dan masalah yang dialami masyarakat terutama yang berkaitan dengan peningkatan aksestabilitas UMKM terhadap perbankan, dapat dijadikan ide dan inspirasi untuk meneliti lebih jauh faktor penyebab dan potensi penyelesaian yang bisa dilakukan dengan tetap mempertimbangkan keunikan budaya kehidupan masyarakat lokal.

Pengabdian masyarakat berupa pendampingan UMKM menjadi usaha yang bankable, mengharapkan kondisi sebagai berikut:

  1. Timbulnya kesadaran berbasis pemahaman untuk tertib keuangan usaha; sehingga pemilik mengetahui kondisi aktual usaha.
  2. Mampu menyusun laporan keuangan usaha sederhana seperti yang diharapkan oleh penyedia modal seperti industri perbankan dan lembaga pembiayaan yang ada di sekitar usaha
  3. Bisa mengakses tambahan modal untuk peningkatan skala usaha

Gambar 3. Lingkup Pendampingan UMKM oleh Perguruan Tinggi [Jurusan Akuntansi]

USAHA MIKRO KECIL

 

Sumber: assessment penulis

Tujuan timbulnya kesadaran berbasis pemahaman berhubungan dengan perubahan mindset; kemampuan menyusun laporan keuangan berkaitan dengan peningkatan skill yang akan dimiliki dan kemampuan mengakses modal dari perbankan berkaitan dengan tindakan atau follow up dari 2 (dua) input sebelumnya. Dengan pendampingan yang dilakukan, diharapkan UMKM dapat meningkatkan skala usaha mereka.

Dalam tataran yang lebih teknis, strategi pendampingan yang akan dilakukan meliputi:

  1. Assessment awal atas profil usaha objek dampingan
  2. Pencerahan akan urgensi tertib keuangan dan peluang akses modal
  3. Pelatihan penyusunan laporan keuangan usaha yang bankable
  4. Pendampingan inventarisasi kekayaan yang dimiliki dan revaluasi
  5. Pendampingan penyusunan laporan keuangan berupa TOT untuk setiap kelompok usaha sejenis
  6. Penyediaan form-form yang dibutuhkan untuk penyusunan laporan keuangan

Untuk menjaga agar proses pendampingan tersebut bias berjalan, juga dibutukan kerjasama para pihak disekitar UMKM berada terutama peran RT/RW untuk menjadi fasilitator dan mediator antara pihak pendamping dan UMKM.

Tabel 4. Pihak-pihak yang Terlibat (stakeholders) dan Bentuk Keterlibatannya

NO

PIHAK TERLIBAT

KETERLIBATAN

1

Tim Pendamping Melakukan coaching and partner consulting penyusunan laporan keuangan usaha bankable

2

UMK Objek pendampingan

3

Ketua RT/RW Fasilitator dan mediator antara tim pendamping dan UKM yang menjadi warga bersangkutan

4

Koordinator TOT Trainer bentukan yang mendampingi UMK secara rutin. Dapat berasal dari perwakilan UMK atau mahasiswa terpilih dari Prodi Akuntansi [Syariah]

Strategi pendampingan ini dapat dilakukan oleh perguruan tinggi dengan menjadikannya sebagai arah dan muatan dalam Kuliah Kerja Lapangan (KKL) bagi mahasiswa tingkat akhir atau menjadi proyek penyelesaian tugas akhir sebagai pertanggung jawaban gelar sarjana yang akan diperoleh. Sehingga, KKL yang telah dilakukan selama ini menjadi lebih fokus arahannya sesuai kurikulum jurusan/program studi akuntansi. Inilah yang telah dilakukan beberapa perguruan tinggi di luar negeri yang sudah memfokuskan pengabdian masyarakatnya sesuai jurusan masing-masing seperti dalam laporan pengabdian masyarakat dari Tokio University, University of Washington sebelumnya, dan banyak perguruan tinggi lainnya. Program ini sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempraktekkan ilmu yang diperoleh dan pembelajaran serta kursus nyata untuk menjadi wirausaha setelahnya. Di beberapa negara, program ini mampu meningkatkan persentase wirausaha melebihi peningkatan tenaga kerja. Berdasarkan laporan ILO (2001) yang dikutip oleh Centre for Higher Education Research and Information, di Amerika Serikat, persentase wirausaha mencapai 7% dari angkatan kerja, di Italia 23%, di Turki dan Republic of Korea mencapai 25% and Meksiko sebesar 26%. Di Amerika Latin, porsi wirausaha mencapai 25%[xvi].

  1. G.    Penutup

Perguruan tinggi adalah stakeholder penting yang diharapkan dalam mengurai banyak masalah di kehidupan masyarakat. Peran pentingnya ini menjadi suatu kewajiban dan karakter perguruan tinggi yang terangkum dalam Tridharma Perguruan Tinggi yang diantaranya meliputi pengabdian masyarakat. Lebih khusus, untuk jurusan akuntansi, perannya dimungkinkan dapat membantu mengurangi masalah aksestabilitas UMKM terhadap modal dari perbankan [syariah] untuk meningkatkan dan memperbesar skala usaha yang ada.

Peran yang bisa dilakukan adalah dengan memasukkan masalah terkait dalam tema-tema penelitian tugas akhir; memfokuskan arah program KKL untuk melakukan pendampingan masyarakat atau menjadikan pendampingan tersebut menjadi proyek penyelesaian tugas akhir. Optimalisasi peran ini, dalam jangka panjang akan menjadi balai latihan dan praktik nyata bagi mahasiswa untuk memicu dan memulai jiwa wirausaha setelahnya. Wallahu A’lamu bish Shawab.


[i]Usaha Mikro dan Kecil (UMK) adalah usaha yang dekat masyarakat kecil; dilakukan, dinikmati dan menghidupkan perekonomian masyarakat kecil. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 20/2008. Kriteria Usaha Mikro adalah memiliki kekayaan bersih paling banyak  Rp50.000.000,00 (lima puluh  juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

[ii]Suhendar Sulaeman. “Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah dalam Menghadapi Pasar Regional dan Global”, Infokop Nomor 25 Tahun XX, 2004, hlm 116; Lihat juga Endang Sri Winarni. “Strategi Pengembangan Usaha Kecil Melalui Peningkatan Aksesibilitas Kredit Perbankan”, Infokop Nomor 29 Tahun XXII, 2006, hlm. 93

[iii]Lihat juga Andang Setyobudi. “Peran Serta Bank Indonesia dalam Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)”,  Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan, Volume 5, Nomor 2, Agustus 2007, hlm. 30

[iv]Lihat http://hdr.undp.org/en/data/trends/ diakses 12 Juli 2012.

[v]UU Sisdiknas Pasal 20 ayat 2 berbunyi: “Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat”.

[vi]Dijalankan oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan dan Kementerian Agama melalui unit-unitnya seperti BAN-PT, Kopertis, Kopertais, dsb.

[vii]Meghana Ayyagari, T. B.-K. (2005). Small and Medium Enterprises across the Globe. Retrieved July 12, 2012, from http://siteresources.worldbank.org: http://siteresources.worldbank.org/DEC/Resources/84797-1114437274304/SME_globe.pdf, hlm. 6; Lihat juga Oya Pinar Ardic, N. M. (2011). Small and Medium Enterprises A Cross-Country Analysis with a New Data Set. The World Bank, hlm. 8

[viii]Bank Indonesia. 2011. Kajian Akademik Pemeringkat Kredit Bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Indonesia. Jakarta: Bank Indonesia, hlm. 9-10

[ix]European Commission. The new SME definition User guide and model declaration. Enterprise And Ndustry Publications, hlm. 4

[x]Karsidi, R. 2005. Peran Perguruan Tinggi dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia Usaha Mikro Kecil Menengah di Era Otonomi Daerah. Dies Natalis ke-22 Universitas Islam Batik (UNIBA) Surakarta, (pp. 1-13). Surakarta, hlm. 5

[xi]Hirohisa Uchida. tth. “Contribution of University to Our Global Society,” responds on  The first Saudi Arabia ‐ Japan University Presidents’ Conference was held on 8th July 2010  in Tokyo,  Japan

[xii]Jessica S. Korn. 1999. “Contribution to Society Among Graduates of the University of Washington,” Office of Educational Assessment Report 99-10

[xiii]Alma Swan. 2008. “Study on The Availability of UK [United Kingdom] Academic “Grey Literature” to UK SMEs, UK: Key Perspectives Ltd.

[xiv]John Brennan, Roger King and Yann Lebeau. 2004. “The Role of Universities in the Transformation of Societies,” An International Research Project Synthesis Report, London: Centre for Higher Education Research and Information, hlm. 11

[xv]Ibid, hlm. 26

[xvi]Ibid, hlm. 31

Daftar Bacaan

Ardic, Oya Pinar, N. M. 2011. Small and Medium Enterprises A Cross-Country Analysis with a New Data Set. The World Bank

Ayyagari, Meghana, T. B.-K. 2005. Small and Medium Enterprises across the Globe. Retrieved July 12, 2012, from http://siteresources.worldbank.org: http://siteresources.worldbank.org/DEC/Resources/84797-1114437274304/SME_globe.pdf,

Bank Indonesia. 2011. Kajian Akademik Pemeringkat Kredit Bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Indonesia. Jakarta: Bank Indonesia

Bank Indonesia. 2012a. Laporan Perkembangan Perbankan Syariah 2011. Jakarta: Bank Indonesia

Bank Indonesia. 2012b. Statistik Perbankan Syariah per Juni 2012. Jakarta: Bank Indonesia

Brennan, John, Roger King and Yann Lebeau. 2004. “The Role of Universities in the Transformation of Societies,” An International Research Project Synthesis Report, London: Centre for Higher Education Research and Information

European Commission. The new SME definition User guide and model declaration. Enterprise And Ndustry Publications

Karsidi, R. 2005. Peran Perguruan Tinggi dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia Usaha Mikro Kecil Menengah di Era Otonomi Daerah. Dies Natalis ke-22 Universitas Islam Batik (UNIBA) Surakarta

Korn, Jessica S.. 1999. “Contribution to Society Among Graduates of the University of Washington,” Office of Educational Assessment Report 99-10

Setyobudi, Andang. “Peran Serta Bank Indonesia dalam Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)”, Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan, Volume 5, Nomor 2, Agustus 2007

Sri Winarni, Endang. “Strategi Pengembangan Usaha Kecil Melalui Peningkatan Aksesibilitas Kredit Perbankan”, Infokop Nomor 29 Tahun XXII, 2006.

Sulaeman, Suhendar. “Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah dalam Menghadapi Pasar Regional dan Global”, Infokop Nomor 25 Tahun XX, 2004

Swan, Alma. 2008. “Study on The Availability of UK [United Kingdom] Academic “Grey Literature” to UK SMEs, UK: Key Perspectives Ltd

Uchida, Hirohisa . tth. “Contribution of University to Our Global Society,” responds on  The first Saudi Arabia ‐ Japan University Presidents’ Conference was held on 8th July 2010  in Tokyo,  Japan

http://hdr.undp.org/en/data/trends/ diakses 12 Juli 2012.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadis hari ini

Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya"
April 2014
M T W T F S S
« Mar   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Follow me !

%d bloggers like this: